Selamat Datang

Selamat datang ....... di WILAYAH COOPERATION LINE ....... “Art Partner” : ....... Komunitas Apresiasi Studi Seni Budaya Sosial & Sastra – Cooperation Line of Art Partner ....... (KASSBSS – CLoAP).

Art Partner

Komunitas Apresiasi Studi Seni Budaya Sosial dan Sasrta
Cooperation line of Art Partner
KASSBSS - CLoAP

SALAM SENI

KASSBSS - Cloap adalah penghubung dari semua Seni, Sastra, Sosial, Budaya, IPTEK dll.
Bagi anda yang ingin berpartisipasi silakan kirimkan tulisan ataupun yang lainnya, biodata beserta photo ke email :

artpartner.kassbss.cloap@gmail.com

ART PARTNER

Tampilkan postingan dengan label Puisi Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juli 2009

Edisi Lingkungan Hidup - Puisi dari Arief

Tawa mentari yang diselubungi selimut hitam
Hingga sendunya hari tampak dipelupuk mata
Hal itu membuat enggan para burung
Untuk melantumkan seruan alam

Sungguh sunyi saat ini
Hembusan angin yang menusuk tulang
Diiringi oleh sedihnya awan
Yang menurunkan bala tentaranya kebumi

Pepohonan berlari
Mereka melawan dengan sekuat tenaga
Untuk melindungi kerajaan mereka

Tetapi,
Mereka tak punya banyak tenaga untuk melawan
Karena para yang berkuasa
Telah menghancurkansebagian dari mereka

Hutanpun bersedih
Hutan pun menangis
Meratapi kemalangannya
Hingga air mata mereka Tertumpah
Menjadi petaka bagi bumi


(AR_F5.AMT~KALSEL.22”12”2007.09:08)

Minggu, 05 Juli 2009

Edisi Lingkungan Hidup - Puisi dari Putri

Bumi Menggerutu

Aku sudah tua
Dan aku lelah menopang kehidupan manusia
Tak ada yang peduli
Umurku tak lama lagi
Mengapa aku tak jadi langit saja?
Tak ada yang pernah menjamahnya
Ia hidup tenang di atas sana
Kebisingan yang selalu mendera
Badanku rusak, lubang perutku semakin dalam
Perang menghancurkanku
Keserakahan manusia membuatku miskin
Planet-planet tak lagi mengagumiku
Mereka berbalik mencibirku


(Banjarbaru, 5 Agustus 2004)

# Puisi dari drap antologi Lingkungan Kalsel

Dwi Putri Ananda (Pamekasan, 10 Februari 1987). Alumni SMA Negeri 1 Banjarbaru ini di samping produktif menulis sajak juga aktif berteater dan musikalisasi puisi. Sajak-sajaknya diikutsertakan dalam antologi penyair Banjarbaru Bumi Menggerutu (2005). Kini bergiat di komunitas Kilang Sastra Batu Karaha.

Minggu, 17 Mei 2009

Edisi Lingkungan Hidup - Puisi dari Johan Kalayan


WIT si WIT

Wit wit wit si Wit wit wit wit si Wit
wit wit wit wit wit si Wit wit wit wit
Bobgkar !!!
Gali lililili Gali galiiii !
Ba ba ba ba ba rarara ra ra ra rararara
tu tu tu tu tut bababa tutututu ra rarara
tutututttttt…
Angkuuuuut !
Masuk kantong atas, kantong bawah
Kantong depan kantong belakang
Deposito di Bank-bank semua sudah terisi dengan wit
Huaaaaah…….
Semua sudah penuh
Si Wit tertawa terbahak-bahak
Perutnya semakin gendut
Anaknya sudah kuliah di Ithaca sebuah kota kecil di Amerika serikat
Masa depannya akan menggantikan kedudukan si Wit
Anakku bakal jadi pejabat
Kekuasaan akan menambah kekayaan

Wit wit wit wit si Wit
Si Wit membongkar, menggali lagi. Gali lililili
Rararara ra ra rarara babababa tututu babababa
Si Wit banyak wit
Si Wit kawin lagi, kawin lagi.
Istrinya sudah selusin
Masih belum puas si Wit berselingkuh lagi
Wooooowww…..
Si Bahenol dalam pelukannya
Entah berapa banyak wanita yang ditidurinya
Si Wit lupa diri
Si Wit terus mengeruk kekayaan alam tanpa peduli lingkungan
Alam marah
Panas matahari menyengat
Bukit dan tanah dataran jadi tandus berlobang-lobang hancur tidak karuan!
Awan hitam berarak
Langit mendung
Hujan deras turun
Tuhan sudah mulai marah pada si Wit
Banjir datang, membunuh para bayi
Wanita renta ternganga larut di telan banjir
Jeritan terdengar keras
Toloooooong….!
Sang ibu menangis kehilangan anak, kehilangan suami, kehilangan segalanya
Para suami termangu memikir keluarganya, makan apa nanti siang.
Semua ini ulah dari Si Wit wit wit wit
Orang pintar bisa berhati kanibal
Orang bijak berhati mulia

Si Wit capek melayani istri-istrinya.
Capek melayani selingkuhannya.
Tadinya si Wit duduk di kursi kekuasaan, sekarang terkapar di rumah sakit
duduk di kursi roda.
Wajahnya pucat, bola matanya kuning menyala.
Si Wit Strouk memikirkan istri-istrinya yang rewel dan para selingkuhannya
Minta dinikahi
Si Wit termenung memikirkan nasibnya
Istri-istri mudanya mulai tersenyum, demikian juga selingkuhannya
Mereka sebentar lagi akan meraup kebebesan lepas dari genggaman si Wit.
Terkecuali istri tuanya menangis, meratapi suaminya
Tuhan ampuni suamiku
Jangan masukan ke Neraka jahanam

(Indonesia 2008)

Johan Kalayan, adalah seorang Penyair Banjarmasin, yang saat ini berdomisili di jakarta, sebagai Penulis Novel, Penulis naskah filem dan sinetron, serta sebagai salah satu pengurus PARFI Nasional.

Edisi Lingkungan Hidup - Puisi dari Petrus Adi Utomo


PUTTING BELIUNG

sahabatmu angin semilir pantai
angin sepoi tempat pecinta menikmati senja
angin gunung pembawa awan sejuk pegunungan
angin laut darat sahabat pelaut mencari ikan

aku berdiri ditengah padang
ketika kau datang kawan…
pohon-pohon tumbang
rumah-rumah menjadi padang
padang-padang menjadi timbunan kehancuran
kawan…
apakah kau sedang murka?
mengapa kau marah?
apakah salah kami?
putting beliung berdiam bisu…
putting beliung kembali datang
merusak kota-kota
dalam putaran hembusannya mengangkat kota kota
inilah jawabku katanya
kota sumber kehancuran hutan
kota sumber kehancuran alam
kota sumber tipu muslihat

aku berdiri tegap, ditengah kehancuran kota
bertanya… siapa yang mendengar suara badai?
orang kaya pucat pasu orang pandai diam
para pemimpin bisu
hanya penggembala kerbau
mengangkat tangan kotor dan berkata
putting beliung badai sahabatku
maka aku tau apa yang dia mau
tapi siapa yang mau dengar aku?

(Elang Darat, Solo, Jajar 3 Januari 2008, jam 3 pagi)

Petrus Adi Utomo (Elang Darat), lahir 4 Juni 1964, tingal di kota Solo.
Ngamen puisi dari tahun 2002 hingga 2008. Prestasi yang diraih : juara ketiga menulis dan membaca puisi QQ Production se Jabotabek tahun 2007, juara ketiga membaca dan menulis se Jateng piala Dewan Kesenian jateng tahun 2008. Sering tampil membaca puisi dalam berbagai acara dan kegiatan.

Edisi Lingkungan Hidup - Puisi dari Hamami Adaby


Peristiwa Alam

Rambut habis cukur sebuah fenomena alam semesta.
Musim tak pernah utuh, berubah panjang dan pendek.
Tak ada skala prioritas sudah berabad kejadian.

Apalagi yang tak terduga. Masih tumbuh diatas bola?
Kolam berpuluh tahun kesetiaan sisi menipis terkikis

Dari lapisan tanah air setitik nafas mengalir, bumi berdenyut pohon akarku kering sendiri.

Tanah ilalang tak subursubur, bunganya terbang tak tumbuhtumbuh. Bukan berapa usiamu, itukah yang akan kau pertanyakan?

Tanah ilalang memang tak subur, bunganya terbang tak pulangpulang.


Hamami Adaby (Banjarmasin, 5 Mei 1942). Pensiunan PNS yang pernah menjabat Kepala Kantor Departemen Penerangan di Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan ini menghimpun sajak-sajaknya dalam antologi Desah (1984), Senja (1994), Iqra (1997), Kesumba (2001), Dunia Telur (2001), Nyanyian Seribu Sungai (2001), dan Bunga Angin (2002). Antologi bersama yang memuat sajaknya adalah Banjarbaru Kotaku (1974), Dawat (1982), Bunga Api (1994), Bahalap (1995), Pelabuhan (1996), Jembatan Asap (1998), Bentang Bianglala (1998), Cakrawala (2000), Tiga Kutub Senja (2001), Bahana (2001), Narasi Matahari (2002), Notasi Kota 24 Jam (2003), Anak Zaman (2004), Uma Bungas Banjarbaru (2004), Baturai Sanja (2004), Bulan Ditelan Kutu (2004), Dimensi (2005), Bumi Menggerutu (2005), Garunum (2005), Seribu Sungai Paris Barantai (2006) dll.

Edisi Lingkungan Hidup - Puisi dari Drs. Ahmad Syam'ani


DANAU LIAR

Kau ingin melipat danau./
Dan menyimpannya/ di selembar daun pintu/
Yang penuh/ cahaya lampu.
Namun/ danau adalah kegelapan liar/ belantara./
Tempat pengembara/ tersesat/
Dan jeritan rindu/ yang tak dapat menggugurkan daun-daun./
Tanpa gelombang./

Danaulah yang membuka/ kemarau/
Dan menyebarkan jiwa diam./
Mematikan/ nyala AC,/ Telivisi,/ dan Radio./
Mengetuk daun pintu/ yang penuh coretan cita,/ kegagalan,/ dan debu dari tangan mu./
Yang rapuh menutup diri/ yang ingin abadi/ dibawah lampu.

Danaulah yang selalu bisa membuat mu putus asa./
Karena keliarannya/ tak terjamah./
Tak bisa dilipat/ dan disimpan/ di selembar daun pintu/ oleh tangan mu/
yang rapuh.
Namun/ pernah kau tahu.
Danau juga/ yang bisa menjadikan mu/
ikan yang bebas berani/ meninggalkan/ cahaya lampu./
merubuhkan pintu./
menuju/ kegelapan alam./
di luar/ kamar.

# dimuat di selebaran-Syam, Bulettin Forum Sastra Kita, Edisi III/ Jan/04, Hal 12

Drs.Ahmad Syam’ani, lahir di Banjarmasin 14 Februari 1958, hingga menyelesaikan pendidikan Fisip Unlam Banjarmasin (S1), sekarang berdomisili di Bandung.
Menulis puisi sejak tahun 1978, dipublikasikan di berbagai media massa, Banjarmasin, Subang, Bandung.
Sebagai penyair pernah menjadi anggota Ikatan Pecinta Seni Sastra Mahasiswa Unlam Banjarmasin-Banjarbaru, ketua Forum Pujangga Vens/ Sastra Venus, tahun 2003 menjadi ketua Forum sastra Kita Subang, tahun 2005 menjadi bendahara forum sastra pojok Bandung dan menjadi ketua Buletin Rumah Sastra Bandung.
Prestasi: juara II, penulisan puisi yang diadakan oeh radio Kharisma (Later) Subang dalam rangka HUT RI tahun 2000. Puisi-puisi yang dimuat, di antologi Dahaga B.Post (1981) sebuah kenang-kenangan oleh Tajuddin Noor Ganie. Dimuat dalam sketsa penyair (berbagai angkatan) oleh Maman.S tani dan Jarkasi, Banjarmasin. Dimuat dalam Buletin sastra oleh Forum sastra kita Subang.

Edisi Lingkungan Hidup - puisi dari I Made Suantha

Restorasi Kupukupu – 6

bahasa sederhana ini: “kupukupu lahir!”
menyimak lapisan air
udara: bias cahaya di daun
mengurai putik: benang sari untuk menjadi madu

o, penangkar lebah
seberapa indah sebuah taman tanpa bunga
kumbang. serangga malam
bulan. percintaan sepasang kekasih. bintangbintang!

dan jalan setapak menuju pusat gempa
seberapa kuat cengkramannya pada tanah
sekeras cahaya. segemericik air
seliat angin!
aku menyiangi. mengairi nektar getah
selaksa detak jantungmu!

seekor kecebong tanpa ekor. yatim piatu
mengacaukan warna lumut pada setiap telaga
(warna coklat yang pekat. secair lumpur
membusukkan udara bebas dalam genggaman!)

mencari matahari yang hilang disebuah senja
disetebal kabut yang meleleh bersama liur kupukupu
disebuah jejak yang timbul tenggelam di cuaca
ku terka wajahmu seperti angin
dalam desiran tak henti henti!

kupukupugelisah
di tangan perambah hutan: pemburu!
kupukupu terbang
di peta kiblat: altar penungguan!

seberapa datar cakrawala dengan batas laut itu
jalan terbilang dan terbagi
secarik sawah di kalbu: sebutir telur teram
setenang ibadah air!

# Dimuat dalam buku antologi puisi Pastoral Kupukupu, halaman 60, penerbit Arti Foundation, tahun 2008

I Made Suantha, lahir di Sanur, Denpasar 24 Juni 1967. Mulai menulis sejak SMP tahun 1984. Tahun 1987 diundang Dewan Kesenian Jakarta dalam Forum Puisi Indonesia 1987 di Taman Ismail Marjuki, Jakarta. Tahun 1992 diundang pada Festival Puisi di Surabaya.
Tulisannya tersebar di Bali, Jawa, Sumatera, Kalimantan. Antologi puisinya: Hram (kumpulan puisi penyair bali, 1988), Silaturahmi Kupu-kupu (Desember 2005). Antologi puisi tunggal : Peniup Angin (1989), Togog Yeh (kumpulan puisi bahasa Bali, tahun 2002), Liturgi, Perjalanan Bunga (manuskrip tiga kumpulan puisi, siap terbit), dll.
Kini menetap di Jalan Raya Celuk Gg. Sakura I/5 Celuk Sukawati, Gianyar, Bali.

Sabtu, 11 April 2009

Edisi Lingkungan Hidup - Puisi dari Imraatul Zannah


PERAWANKU TELAH PERGI

Cinta, belajarlah untuk mencinta. Jika hari ini burung-burung enggan beterbangan, dan hutan-hutan tak lagi memperdulikan rimbunnya dedaunan, engkau yang mengurai air mataku diantara hitamnya batu-batu, menakar aroma nafasmu di cawan-cawan peradaban

Tapi perawanku telah pergi, menyisakan debu-debu yang luruh dalam banjir air mata anak cucu kita, lahan-lahan kosong, gersang, dan terbuang, memformulasikn bahasanya untuk meratapi keangkuhan gedung-gedung yang menggerayangi wajahnya yang semakin tak berdaya
“Bakarlah indahnya dedaunan dan kicau riang populasi hewan-hewan!” teriakmu

(kita senantiasa dikeramas roh pohon-pohon ketika mesin air matanya mengantarkan sesaji ke meja-meja purba yang memetakan nafas kekuasan di laci-lacinya)

(Kandangan, 11 Desember 2008)

# Puisi dari drap antologi Lingkungan Kalsel

Imraatul Zannah, dengan nama pena Annisa (Kandangan, Kabupten HST, 2 Mei 1982). Dari Madrasah Aliyah Darul Ulum Kandangan, melanjutkan ke PONPES Darussalam Martapura. Buku kumpulan sajak tunggalnya adalah Epilog Hari Ini (2002), dan Jika Cinta Telah Menyapa (2004). Sajaknya yang terhimpun dalam antologi bersama antara lain Potret Tiga Warna (2002), Narasi Matahari (2002), Notasi Kota 24 Jam (2003),Bulan Ditelan Kutu (2004), Bumi Menggerutu (2005), Seribu Sungai Paris Barantai (2006), Kau Tidak Akan Pernah Tahu Rahasia Sedih Tak Bersebab (2006), Kugadaikan Luka. (2007). Kini dia sudah kembali kekampung halamannya di Kandangan.

Edisi Lingkungan Hidup - Puisi dari Diah Hadaning


Fragmen Tanpa Ornamen

hari ini kuwakili
berjuta anak cucu sisa peradaban
dari bumi ijo royo yang abadi dalam gunungan
gemah ripah loh jinawi indah dalam suluk dalang

hari ini kuwakili
kenyataan tak terbilang
hitam kelabu mulai hapus warna hijau
instalasi baru derita para kawula
limbah tak lagi milik sungai
tapi di lidah para pemikir baru
yang ngungsi tidur saat harusnya terharu
menyimak tangis korban ketidak adilan
rembang pagi kuketuk pintu purimu
wahai putera sang waktu
dengar, dengarlah suara jiwa
anak cucu Ki Suto Kluthuk
windu-windu hidup tersaruk

hari ini kubersaksi
diantara langkah-langkah dan sabarmu
adalah para Durna dan Sengkuni
yang muncul salah jaman

(DiHa-Cimanggis, Juli 2005)

# Dimuat dalam buku antologi puisi Bumi Ini Adalah Kita Jua, halaman 25, diterbitkan oleh Pusat Dokumentasi Sastra H.B.Jassin, tahun 2005


Diah Hadaning (DiHa), lahir di Jepara, Mei 1940. Lulusan Sekolah Pekerja Sosial Semarang tahun 1960, menekuni penulisan sajak sejak tahun 1970-an hingga sekarang.
Tahun 1980 menerima penghargaan dari Gabungan Penulis Nasional (GAPENA) Malaysia, tahun 1994 penghargaan puisi tema hutan EBONI Jakarta, tahun 2003 penghargaan dari Pusat Pengkajian Kebudayaan Jawa di Surakarta.
Karya-karyanya di muat diberbagai media cetak pusat dan daerah, sebagian besar telah dibukukan, tampil tunggal maupun antologi. Selain pusi juga menulis cerpen, novel, terjemahan dongeng anak-anak dunia, naskah lakon (drama bahasa daerah).
Mottonya : Dengan puisi aku berarti, dengan pusi aku bersaksi.

Edisi Lingkungan Hidup - Puisi dari ARAska


BANJAR BANJIR INDONESIA BANJIR

banjar banjir banjir banjar banjar banjir
indonesia banjir indonesia banjir
tiaphari kudengar berita banjir
di koran banjir di radio banjir di televisi banjir
rumah-rumah berenang dalam air banjir
duka hati banjir

banjar banjir banjir banjar banjar banjir
banjar banjar banjar banjar banjar
banjir banjir banjir banjir banjir
malam ini hujan tak mau berhenti banjir
lantai rumahku sudah mandi air banjir
apakah atapnya akan menyelam banjir

banjar banjir banjir banjar banjar banjir
banjar banjar banjar banjar banjar
banjir banjir banjir banjir banjir
siapakah yang akan kusalahkan atas banjir
yang akan kukutuk dipersalahkan untuk banjir

banjar banjir banjir banjar banjar banjir
banjar banjar banjar banjar banjar
banjir banjir banjir banjir banjir
sungaiku di banjar telah mengecil jadi trotoar kini banjir
sungaiku di banjar di makan rumah dan bangunan maka banjir
sungaiku di banjar penuh sampah jadilah banjir

banjar banjir banjir banjar banjar banjir
banjar banjar banjar banjar banjar
banjir banjir banjir banjir banjir
mereka rusak hutanku pelindung banjir
mereka tebang pohonku serapan banjir
mereka gali gunungku jadi lubang banjir
banjar banjir banjir banjar banjar banjir
banjar banjar banjar banjar banjar
banjir banjir banjir banjir banjir
ladangku jadi kolam banjir
padiku tenggelam banjir
panenku di telan banjir

banjar banjir banjir banjar banjar banjir
banjar banjar banjar banjar banjar
banjir banjir banjir banjir banjir
siapakah yang akan kusalahkan atas banjir
yang akan kukutuk dipersalahkan untuk banjir
cuaca rusak tiada menentu bila hujan jadi banjir
cuaca rusak tiada menentu bila panas jadi kemarau banjir
cuaca rusak tiada menentu rumah kaca membanjir
cuaca rusak tiada menentu polosi udara membanjir

banjar banjir banjir banjar banjar banjir
banjar banjar banjar banjar banjar
banjir banjir banjir banjir banjir
siapakah yang akan kusalahkan atas banjir
terkutuklah para penyebab banjir
banjir banjir banjir banjir banjir
jirban jirban jirban jirban jirban
ban ban ban ban ban
jir jir jir jir jir
ir ir ir ir ir
air air air air air
air mataku banjir
air mata kami banjir
banjar banjir
indonesia banjir

(ARAska - Bjm-Kalsel)