Tawa mentari yang diselubungi selimut hitam
Hingga sendunya hari tampak dipelupuk mata
Hal itu membuat enggan para burung
Untuk melantumkan seruan alam
Sungguh sunyi saat ini
Hembusan angin yang menusuk tulang
Diiringi oleh sedihnya awan
Yang menurunkan bala tentaranya kebumi
Pepohonan berlari
Mereka melawan dengan sekuat tenaga
Untuk melindungi kerajaan mereka
Tetapi,
Mereka tak punya banyak tenaga untuk melawan
Karena para yang berkuasa
Telah menghancurkansebagian dari mereka
Hutanpun bersedih
Hutan pun menangis
Meratapi kemalangannya
Hingga air mata mereka Tertumpah
Menjadi petaka bagi bumi
(AR_F5.AMT~KALSEL.22”12”2007.09:08)
Selamat Datang
Art Partner
Kamis, 23 Juli 2009
Minggu, 12 Juli 2009
Sabtu, 11 Juli 2009
Minggu, 05 Juli 2009
Edisi Lingkungan Hidup - Puisi dari East Star from Asia
Sajak Orang Pedalaman
ketika pohon-pohon itu ditebang
tubuh kamilah yang luka pertama kali
ketika pohon-pohon itu tumbang
rumah kamilah yang ditimpa pertama kali
kehidupan hijau dahulu yang kami dambakan
tanda sebagai manusia dari dunia bebas
atas nama kemanusiaan telah disingkirkan
dan ketika pohon-pohon itu diperjualbelikan
kamilah yang terakhir kali merasakan bantuan
ketika sungai-sungai itu meluap
air mata kamilah yang mengalir pertama kali
ketika sungai-sungai itu kering
tenggorokan kamilah yang mati pertama kali
kami tak dapat bicara tanpa tenggorokan
dan kami memang tidak memiliki mulut tenggorokan
sebagai ganti rugi semua yang kami dambakan
atas nama kemanusiaan telah disingkirkan
dan ketika sungai-sungai itu meminta korban
kamilah yang terakhir kali merasakan bantuan
bila tubuh kami hanyut menjadi cerita
bila rumah kami hanyut menjadi cerita
hanya air mata anak-cucu yang dapat kami sisakan
dan ketika semua itu menjadi pilu cerita
kamilah disebut penyebab pertama kali
alasan terakhir atas nama membangun kemanusiaan
(Banjarbaru, 1990)
# Puisi dari drap antologi Lingkungan Kalsel
East Star from Asia, adalah nama pena dari Qinimain Zain (Kandangan, 21 Mei 1965). Sarjana Fakultas Pertanian Unlam Banjarbaru juga dikenal sebagai ahli strategi dengan istilah ‘paradigma TQZ (Total Qinimain Zain)’. Menulis sajak, cerpen, esai, dan opini sejak tahun 1980-an. Beberapa sajaknya dimuat dalam antologi bersama Taman Banjarbaru (2006).
ketika pohon-pohon itu ditebang
tubuh kamilah yang luka pertama kali
ketika pohon-pohon itu tumbang
rumah kamilah yang ditimpa pertama kali
kehidupan hijau dahulu yang kami dambakan
tanda sebagai manusia dari dunia bebas
atas nama kemanusiaan telah disingkirkan
dan ketika pohon-pohon itu diperjualbelikan
kamilah yang terakhir kali merasakan bantuan
ketika sungai-sungai itu meluap
air mata kamilah yang mengalir pertama kali
ketika sungai-sungai itu kering
tenggorokan kamilah yang mati pertama kali
kami tak dapat bicara tanpa tenggorokan
dan kami memang tidak memiliki mulut tenggorokan
sebagai ganti rugi semua yang kami dambakan
atas nama kemanusiaan telah disingkirkan
dan ketika sungai-sungai itu meminta korban
kamilah yang terakhir kali merasakan bantuan
bila tubuh kami hanyut menjadi cerita
bila rumah kami hanyut menjadi cerita
hanya air mata anak-cucu yang dapat kami sisakan
dan ketika semua itu menjadi pilu cerita
kamilah disebut penyebab pertama kali
alasan terakhir atas nama membangun kemanusiaan
(Banjarbaru, 1990)
# Puisi dari drap antologi Lingkungan Kalsel
East Star from Asia, adalah nama pena dari Qinimain Zain (Kandangan, 21 Mei 1965). Sarjana Fakultas Pertanian Unlam Banjarbaru juga dikenal sebagai ahli strategi dengan istilah ‘paradigma TQZ (Total Qinimain Zain)’. Menulis sajak, cerpen, esai, dan opini sejak tahun 1980-an. Beberapa sajaknya dimuat dalam antologi bersama Taman Banjarbaru (2006).
Edisi Lingkungan Hidup - Puisi dari Putri
Bumi Menggerutu
Aku sudah tua
Dan aku lelah menopang kehidupan manusia
Tak ada yang peduli
Umurku tak lama lagi
Mengapa aku tak jadi langit saja?
Tak ada yang pernah menjamahnya
Ia hidup tenang di atas sana
Kebisingan yang selalu mendera
Badanku rusak, lubang perutku semakin dalam
Perang menghancurkanku
Keserakahan manusia membuatku miskin
Planet-planet tak lagi mengagumiku
Mereka berbalik mencibirku
(Banjarbaru, 5 Agustus 2004)
# Puisi dari drap antologi Lingkungan Kalsel
Dwi Putri Ananda (Pamekasan, 10 Februari 1987). Alumni SMA Negeri 1 Banjarbaru ini di samping produktif menulis sajak juga aktif berteater dan musikalisasi puisi. Sajak-sajaknya diikutsertakan dalam antologi penyair Banjarbaru Bumi Menggerutu (2005). Kini bergiat di komunitas Kilang Sastra Batu Karaha.
Aku sudah tua
Dan aku lelah menopang kehidupan manusia
Tak ada yang peduli
Umurku tak lama lagi
Mengapa aku tak jadi langit saja?
Tak ada yang pernah menjamahnya
Ia hidup tenang di atas sana
Kebisingan yang selalu mendera
Badanku rusak, lubang perutku semakin dalam
Perang menghancurkanku
Keserakahan manusia membuatku miskin
Planet-planet tak lagi mengagumiku
Mereka berbalik mencibirku
(Banjarbaru, 5 Agustus 2004)
# Puisi dari drap antologi Lingkungan Kalsel
Dwi Putri Ananda (Pamekasan, 10 Februari 1987). Alumni SMA Negeri 1 Banjarbaru ini di samping produktif menulis sajak juga aktif berteater dan musikalisasi puisi. Sajak-sajaknya diikutsertakan dalam antologi penyair Banjarbaru Bumi Menggerutu (2005). Kini bergiat di komunitas Kilang Sastra Batu Karaha.
Label:
Puisi Lingkungan
Langganan:
Postingan (Atom)