Selamat Datang

Selamat datang ....... di WILAYAH COOPERATION LINE ....... “Art Partner” : ....... Komunitas Apresiasi Studi Seni Budaya Sosial & Sastra – Cooperation Line of Art Partner ....... (KASSBSS – CLoAP).

Art Partner

Komunitas Apresiasi Studi Seni Budaya Sosial dan Sasrta
Cooperation line of Art Partner
KASSBSS - CLoAP

SALAM SENI

KASSBSS - Cloap adalah penghubung dari semua Seni, Sastra, Sosial, Budaya, IPTEK dll.
Bagi anda yang ingin berpartisipasi silakan kirimkan tulisan ataupun yang lainnya, biodata beserta photo ke email :

artpartner.kassbss.cloap@gmail.com

ART PARTNER

Minggu, 17 Mei 2009

Edisi Lingkungan Hidup - Puisi dari Petrus Adi Utomo


PUTTING BELIUNG

sahabatmu angin semilir pantai
angin sepoi tempat pecinta menikmati senja
angin gunung pembawa awan sejuk pegunungan
angin laut darat sahabat pelaut mencari ikan

aku berdiri ditengah padang
ketika kau datang kawan…
pohon-pohon tumbang
rumah-rumah menjadi padang
padang-padang menjadi timbunan kehancuran
kawan…
apakah kau sedang murka?
mengapa kau marah?
apakah salah kami?
putting beliung berdiam bisu…
putting beliung kembali datang
merusak kota-kota
dalam putaran hembusannya mengangkat kota kota
inilah jawabku katanya
kota sumber kehancuran hutan
kota sumber kehancuran alam
kota sumber tipu muslihat

aku berdiri tegap, ditengah kehancuran kota
bertanya… siapa yang mendengar suara badai?
orang kaya pucat pasu orang pandai diam
para pemimpin bisu
hanya penggembala kerbau
mengangkat tangan kotor dan berkata
putting beliung badai sahabatku
maka aku tau apa yang dia mau
tapi siapa yang mau dengar aku?

(Elang Darat, Solo, Jajar 3 Januari 2008, jam 3 pagi)

Petrus Adi Utomo (Elang Darat), lahir 4 Juni 1964, tingal di kota Solo.
Ngamen puisi dari tahun 2002 hingga 2008. Prestasi yang diraih : juara ketiga menulis dan membaca puisi QQ Production se Jabotabek tahun 2007, juara ketiga membaca dan menulis se Jateng piala Dewan Kesenian jateng tahun 2008. Sering tampil membaca puisi dalam berbagai acara dan kegiatan.

Edisi Lingkungan Hidup - Puisi dari Hamami Adaby


Peristiwa Alam

Rambut habis cukur sebuah fenomena alam semesta.
Musim tak pernah utuh, berubah panjang dan pendek.
Tak ada skala prioritas sudah berabad kejadian.

Apalagi yang tak terduga. Masih tumbuh diatas bola?
Kolam berpuluh tahun kesetiaan sisi menipis terkikis

Dari lapisan tanah air setitik nafas mengalir, bumi berdenyut pohon akarku kering sendiri.

Tanah ilalang tak subursubur, bunganya terbang tak tumbuhtumbuh. Bukan berapa usiamu, itukah yang akan kau pertanyakan?

Tanah ilalang memang tak subur, bunganya terbang tak pulangpulang.


Hamami Adaby (Banjarmasin, 5 Mei 1942). Pensiunan PNS yang pernah menjabat Kepala Kantor Departemen Penerangan di Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan ini menghimpun sajak-sajaknya dalam antologi Desah (1984), Senja (1994), Iqra (1997), Kesumba (2001), Dunia Telur (2001), Nyanyian Seribu Sungai (2001), dan Bunga Angin (2002). Antologi bersama yang memuat sajaknya adalah Banjarbaru Kotaku (1974), Dawat (1982), Bunga Api (1994), Bahalap (1995), Pelabuhan (1996), Jembatan Asap (1998), Bentang Bianglala (1998), Cakrawala (2000), Tiga Kutub Senja (2001), Bahana (2001), Narasi Matahari (2002), Notasi Kota 24 Jam (2003), Anak Zaman (2004), Uma Bungas Banjarbaru (2004), Baturai Sanja (2004), Bulan Ditelan Kutu (2004), Dimensi (2005), Bumi Menggerutu (2005), Garunum (2005), Seribu Sungai Paris Barantai (2006) dll.

Edisi Lingkungan Hidup - Puisi dari Drs. Ahmad Syam'ani


DANAU LIAR

Kau ingin melipat danau./
Dan menyimpannya/ di selembar daun pintu/
Yang penuh/ cahaya lampu.
Namun/ danau adalah kegelapan liar/ belantara./
Tempat pengembara/ tersesat/
Dan jeritan rindu/ yang tak dapat menggugurkan daun-daun./
Tanpa gelombang./

Danaulah yang membuka/ kemarau/
Dan menyebarkan jiwa diam./
Mematikan/ nyala AC,/ Telivisi,/ dan Radio./
Mengetuk daun pintu/ yang penuh coretan cita,/ kegagalan,/ dan debu dari tangan mu./
Yang rapuh menutup diri/ yang ingin abadi/ dibawah lampu.

Danaulah yang selalu bisa membuat mu putus asa./
Karena keliarannya/ tak terjamah./
Tak bisa dilipat/ dan disimpan/ di selembar daun pintu/ oleh tangan mu/
yang rapuh.
Namun/ pernah kau tahu.
Danau juga/ yang bisa menjadikan mu/
ikan yang bebas berani/ meninggalkan/ cahaya lampu./
merubuhkan pintu./
menuju/ kegelapan alam./
di luar/ kamar.

# dimuat di selebaran-Syam, Bulettin Forum Sastra Kita, Edisi III/ Jan/04, Hal 12

Drs.Ahmad Syam’ani, lahir di Banjarmasin 14 Februari 1958, hingga menyelesaikan pendidikan Fisip Unlam Banjarmasin (S1), sekarang berdomisili di Bandung.
Menulis puisi sejak tahun 1978, dipublikasikan di berbagai media massa, Banjarmasin, Subang, Bandung.
Sebagai penyair pernah menjadi anggota Ikatan Pecinta Seni Sastra Mahasiswa Unlam Banjarmasin-Banjarbaru, ketua Forum Pujangga Vens/ Sastra Venus, tahun 2003 menjadi ketua Forum sastra Kita Subang, tahun 2005 menjadi bendahara forum sastra pojok Bandung dan menjadi ketua Buletin Rumah Sastra Bandung.
Prestasi: juara II, penulisan puisi yang diadakan oeh radio Kharisma (Later) Subang dalam rangka HUT RI tahun 2000. Puisi-puisi yang dimuat, di antologi Dahaga B.Post (1981) sebuah kenang-kenangan oleh Tajuddin Noor Ganie. Dimuat dalam sketsa penyair (berbagai angkatan) oleh Maman.S tani dan Jarkasi, Banjarmasin. Dimuat dalam Buletin sastra oleh Forum sastra kita Subang.

Edisi Lingkungan Hidup - puisi dari I Made Suantha

Restorasi Kupukupu – 6

bahasa sederhana ini: “kupukupu lahir!”
menyimak lapisan air
udara: bias cahaya di daun
mengurai putik: benang sari untuk menjadi madu

o, penangkar lebah
seberapa indah sebuah taman tanpa bunga
kumbang. serangga malam
bulan. percintaan sepasang kekasih. bintangbintang!

dan jalan setapak menuju pusat gempa
seberapa kuat cengkramannya pada tanah
sekeras cahaya. segemericik air
seliat angin!
aku menyiangi. mengairi nektar getah
selaksa detak jantungmu!

seekor kecebong tanpa ekor. yatim piatu
mengacaukan warna lumut pada setiap telaga
(warna coklat yang pekat. secair lumpur
membusukkan udara bebas dalam genggaman!)

mencari matahari yang hilang disebuah senja
disetebal kabut yang meleleh bersama liur kupukupu
disebuah jejak yang timbul tenggelam di cuaca
ku terka wajahmu seperti angin
dalam desiran tak henti henti!

kupukupugelisah
di tangan perambah hutan: pemburu!
kupukupu terbang
di peta kiblat: altar penungguan!

seberapa datar cakrawala dengan batas laut itu
jalan terbilang dan terbagi
secarik sawah di kalbu: sebutir telur teram
setenang ibadah air!

# Dimuat dalam buku antologi puisi Pastoral Kupukupu, halaman 60, penerbit Arti Foundation, tahun 2008

I Made Suantha, lahir di Sanur, Denpasar 24 Juni 1967. Mulai menulis sejak SMP tahun 1984. Tahun 1987 diundang Dewan Kesenian Jakarta dalam Forum Puisi Indonesia 1987 di Taman Ismail Marjuki, Jakarta. Tahun 1992 diundang pada Festival Puisi di Surabaya.
Tulisannya tersebar di Bali, Jawa, Sumatera, Kalimantan. Antologi puisinya: Hram (kumpulan puisi penyair bali, 1988), Silaturahmi Kupu-kupu (Desember 2005). Antologi puisi tunggal : Peniup Angin (1989), Togog Yeh (kumpulan puisi bahasa Bali, tahun 2002), Liturgi, Perjalanan Bunga (manuskrip tiga kumpulan puisi, siap terbit), dll.
Kini menetap di Jalan Raya Celuk Gg. Sakura I/5 Celuk Sukawati, Gianyar, Bali.

Rabu, 13 Mei 2009

Diskusi & Lounching Buku Bunda Diah Hadaning


PROSES KREATIFKU DALAM PESONA ETIKA, ESTETIKA DAN MISTIKA
adalah judul buku yang dikarang oleh Diah Hadaning

Telah di diskusikan di Kedai I.Buku, jalan Veteran 25, Kawasan Monas, Jakarta Pusat, hari Sabtu tanggal 16 Mei 2009, pada pukul 13.30 s.d 18.00.
Dengan pembahas TAU-EIK RAHZEN

Rabu, 06 Mei 2009

Cerpen dari Sarah Serena

Tatkala Cinta Berbuah Pahit

Oleh :
Sarah Serena Efendi Santoso, SH. MH

Memang ternyata ada benarnya juga kata orang, lelaki lemahnya terhadap tiga hal, yakni harta, tahta dan wanita. Setidaknya, hal itu kini sedang dirasakan oleh Agus. Salah seorang pejabat tinggi negara yang awalnya diharapkan akan membawa perubahan bagi negeri ini, namun akhirnya jatuh karena seorang wanita. Kini, dia harus berendam dibalik jeruji, karena seorang wanita. Entah, apakah ini sebuah gambaran kondisi negara ini, ataukah hanya kebetulan saja. Berapa banyak pejabat negara, bahkan anggota dewan yang jatuh pamornya hanya karena seorang wanita. Mereka yang seharusnya menjadi tauladan bagi negeri ini, justru malah merusak dirinya sendiri hanya karena persoalan wanita.

Sementara, nun jauh dipedesaan sana, banyak lelaki muda yang terpaksa membujang. Yah, tuntutan kehidupan di jaman sekarang ini, membuat mereka terpaksa ditinggalkan oleh kekasihnya. Kesilauan para gadis muda terhadap materi dan popularitas telah membuat mereka kehilangan kesempatan untuk meraih cinta. “Kita tidak bisa hidup, hanya makan dari cinta”, begitu kata para gadis itu. Belum lagi, anak-anak SMA yang baru beranjak SMA juga telah terkontaminasi dengan harta dan kekayaan. “Eh, sus, kamu tahu apa tidak, di SMA 1 sana anaknya ganteng-ganteng lho, tapi sayang……”, kata Santi. Lalu susi menjawab, “Sayang kenapa, san ?”. Kemudian Susi kembali berkata, “Sayang, mereka tidak ada yang punya motor dan mobil!” Inikah gambaran kondisi saat ini ? Pantas saja sekarang ini makin banyak lelaki muda yang menjadi waria. Bukan karena mereka memang punya kelainan jenis kelamin dari lahir, namun karena mereka frustasi terhadap kehidupan. Yah, frustasi terhadap kehidupan. Mereka merasa frustasi karena tidak mampu bertindak sebagai lelaki sejati yang mampu memenuhi kebutuhan hidup calon pasangannya, sehingga kekasih yang sangat dicintainya sepenuh hati pergi meninggalkan dirinya. Mereka merasa lemah sebagai seorang lelaki!. Belum lagi, kehidupan juga tidak berpihak padanya, dimana mereka sulit mendapatkan kesempatan kerja, karena tidak punya uang untuk menyogok dan tidak punya koneksi untuk memperoleh pekerjaan. Kelemahan itu perlahan lahan mengikis akal sehatnya sebagai seorang lelaki. Hingga akhirnya, ia menempuh jalan sebagai waria untuk memperoleh kehidupan sebagai wujud kelemahan dirinya sendiri yang tak mampu berbuat banyak dalam menapaki jalan kehidupan ini.

Di lain pihak ada para isteri yang sedang merenung dalam sudut kamarnya yang sunyi. Mereka tidak habis pikir, bagaimana para suami mereka tega mengkhianati cinta mereka yang suci. Mereka juga tidak habis pikir, bagaimana para suami meminta mereka menjaga pandangan matanya serta tingkah lakunya sejak menikah, sementara para suami tersebut menebarkan mata serta melebarkan sayapnya dimana-mana. Dengan alasan takut “zina” para suami itu menikah lagi. Padahal para suami telah melakukan “zina” sebelum menikah dengan gadis pujaannya itu. Yah, tanpa disadari para suami itu telah melakukan “zina”, yakni “zina mata”. Karena cinta itu berawal dari pandangan mata. Pandangan mata yang mengobarkan nafsu emosi turun ke dalam hati yang berkembang menjadi sebuah cinta. Yah, cinta. Para lelaki itu kalah dengan dirinya sendiri, karena tak mampu untuk menjaga pandangan matanya, seperti yang dilakukan oleh para isterinya. Mereka berbuat seperti itu, seakan-akan isteri mereka tak mempunyai nafsu seperti para suami itu. Mereka tidak menyadari bahwa lelaki dan perempuan itu pada dasarnya mempunyai nafsu dan perasan yang sama, terlebih lagi perempuan itu berasal dari tulang rusuknya laki-laki. Maka dengan demikian, watak dan sifat lelaki itu pastilah ada dalam diri perempuan itu, karena berasal dari tulang yang sama. Namun, kenapa para isteri itu mampu menjaga pandangan matanya, sementara suaminya tidak ?”. Seringkali bila, sudah terpojok para suami akan mengatakan ‘poligami diperbolehkan dalam agama islam, bila mampu bersikap adil”, kata mereka. “Tetapi adil dalam segi apa?”. Yang namanya perasaannya, sepandai-pandainya orang menyembunyikan perasaannya, pasti akan ketahuan juga. Adil dalam materi, belum tentu adil dalam membagi hati dan perasaan. Seringkali, isteri muda lebih diutamakan daripada isteri tua. Berapa waktu yang dihabiskan bersama isteri muda, daripada isteri tua?”. Secara sadar atau tidak sadar, tentunya hal dilakukan secara tidak adil. Berapa banyak hadiah yang diberikan kepada isteri muda dibandingkan isteri tua? Terlebih lagi ketika isteri tua tersebut tidak mempunyai anak laki laki-laki, sementara isteri muda punyai anak laki-laki. Tentunya kasih sayang para suami itu, akan lebih besar kepada isteri muda karena dianggap telah melahirkan keturunan yang akan melanjutkan usahanya. Walau tak bisa juga menjadi jaminan, setelah dewasa nanti anak tersebut akan menjadi seperti apa yang diinginkan oleh ayahnya. Karena, para suami itu lupa. “ajal, rejeki, jodoh, allah lah yang mengaturnya, bukan manusia. Dengan kata lain, “manusia merencanakan, allah lah yang menentukan. Karena itu, manusia tidak akan pernah bisa menentukan apa yang akan terjadi di masa depan. Mereka hanya bisa berusaha, berikhtiar dan berdoa, namun tidak dapat memastikan masa depan seorang anak.

Nikah siri, merupakan suatu fenomena andalan saat ini bagi para lelaki yang tak mampu menjaga pandangan matanya. Mereka mengatakan mengatakan “menikah siri” sebagai suatu jalan untuk menghindari zina. Pernikahan siri ini dilakukan tanpa sepengetahuan dan seizin isteri pertama. Padahal sebenarnya, apa bedanya “nikah siri” dengan “zina”. Zina diharamkan dalam agama islam, karena dikhawatirkan bayi yang dikandung dalam rahim calon si ibu nantinya tidak berayah, karena si ayah cenderung tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya itu. Sementara nikah siri, walau secara agama diakui sah, akan tetapi di mata hukum negara itu tidaklah sah. Sehingga dengan demikian, sang bayi tidak bisa mendapatkan status pengakuan dari sang ayah. Meski sang ayah telah bertanggung jawab untuk menikah dengan ibunya, namun sang bayi tidak bisa mengakses seluruh harta kekayaan sang ayah, karena kelahirannya kemuka bumi ini belum diakui oleh mata hukum negara. Dengan demikian, apalah bedanya “nikah siri dengan “zina”, toh dua-duanya menunjukkan sang bayi tidak memiliki hak waris sebagai ahli waris dari bapaknya. Jadi apa bedanya?

Kembali ke kisah Agus, sang pejabat negara. Kelemahannya terhadap perempuan, membuatnya terjerat oleh perbuatannya sendiri. Memang, merupakan tugasnya untuk mencari informasi yang sebesar-besarnya mengenai orang-orang yang hendak diselidiki olehnya. Namun, dirinya telah salah langkah dalam mengambil keputusan. Dia menerima undangan dari seorang perempuan untuk datang ke sebuah hotel dengan alasan akan memberikan informasi yang dibutuhkan oleh Agus dalam kasus yang sedang diselidiki olehnya. Tanpa curiga sedikitpun, Agus memenuhi undangan tersebut. Ternyata, sampai di hotel, tidak ada informasi apa apa, yang ada hanya seorang perempuan bernama Rara yang mencoba merayu agus untuk jatuh cinta padanya.

Beberapa hari kemudian, Agus dihubungi oleh orang yang sedang diselidikinya. Orang tersebut mengatakan, bahwa agus telah berselingkuh dengan isteri ketiganya. Agus, kaget setengah mati. Dia tidak menyangka, bahwa dirinya telah dijebak oleh lawannya sendiri. Seandainya waktu itu ia tidak datang ke hotel tersebut, mungkin dia tidak akan terjebak dalam kisah kasih asmara segitiga antara Agus, Rara dan lawannya itu. Tanpa diduga, lawan mainnya mengancam akan melaporkan foto foto perselingkuhan Agus kepada isterinya. Agus mendadak menjadi kalut. Dia takut semuanya akan hancur berantakan, baik rumah tangga maupun nama baiknya. Di tengah rasa kekalutannya itu, muncul pikiran jahatnya. “Ah, mengapa saya tidak minta tolong saja sama teman saya untuk membunuh orang itu”. Ya, ya, ya. Ini adalah satu satunya jalan untuk membungkam mulut orang itu. “Siapa tahu, teman saya tersebut bisa membantu saya untuk melenyapkan orang itu selamanya”, bathin Agus.

Kring, ..kring,…kring, handphone Romi berbunyi. Seorang mantan pejabat kepolisian di wilayah Tanggerang yang namanya sempat melambung, karena sebuah kasus rumah tangga. Saat itu Romi tengah bersenda gurau dengan isteri dirumahnya. “Halo,..siapa ini?’ tanya Romi. Tak lama kemudian, dari seberang sana terdengar suara, “ini Agus, Rom”, katanya. “Oh Agus, apa kabar gus?” , Tumben malam malam begini telepon, ada apa gus?”. Agus pun kemudian menceritakan masalahnya pada Romi. Setelah cukup lama bercerita, akhirnya Agus menanyakan pada Romi, “bagaimana Rom, apakah kamu bisa membantu aku kali menyelesaikan masalah ini?”. Romi sebenarnya agak ragu mendengarkan rencana Agus. Di satu sisi dia merasa apabila dia membantu Agus, maka nama baik dan jabatannnya dia menjadi taruhannya, di sisi lain dia merasa Agus telah membanyak membantu dia dan keluarganya hingga bisa menduduki posisi seperti sekarang ini. “Eye for An Eye”, begitu kata pepatah. Hutang nyawa dibayar nyawa, hutang budi dibayar budi. Saat ini, orang yang selalu menolong Romi selama perjalanan kehidupannya tengah dilanda kesulitan akibat terjebak oleh permainan perempuan dan orang yang menjadi musuhnya, oleh karena itu, meski nama baik dan jabatan menjadi taruhannya dia harus melakukan suatu tindakan untuk membantu dewa penolongnya keluar dari kesulitan. Akhirnya dia memberikan jawaban pada Agus, “Baiklah, Gus kali ini aku akan menolongmu, meski nyawa taruhannya!”. Sebuah keputusan yang berat namun berani.

“Gagak 1 memanggil Gagak 2 dan Gagak 3 untuk menghadap ke Markas. Romi memanggil anak anak buahnya untuk segera menghadap dirinya. Tak berapa lama pula, Ricky dan Toni segera menghadap ke Markas. “Prajurit, ada bahaya mengancam salah seorang pejabat tinggi negara kita”. Pejabat Tinggi tersebut mendapat ancaman pembunuhan oleh salah seorang pengusaha di negeri ini yang sedang diselidiki olehnya. Nah, sebelum orang tersebut sempat melaksanakan niatnya, untuk membunuh pejabat tinggi negara kita, saya minta pada kalian untuk membunuhnya terlebih dahulu. “Apakah kalian siap, melakukannya?”. Serentak mereka berdua menjawab, “siap komandan!”. “Bagus, …bagus, ingat ini tugas negara!”. Jangan sampai ada yang tahu!”. Orang ini bernama Kamaluddin, dia seorang pengusaha PT. Rajacitra Nugraha Permai. Orang ini biasa main golf, di Taman Golf Bukit Tanggerang. Biasanya, dia pulang main Golf menuju Rumah isteri keduanya jam 2 siang. Suasana disaana biasanya sepi. “Nah, saya minta sama kalian untuk membunuh pengusaha itu sepulangnya dari main Golf. “Apakah kalian siap ?” tanya Romi pada anak buahnya. Kembali serentak mereka menjawab, “siap komandan?”

Betapa bangganya Ricky dan Toni mendapat kehormatan menjalankan tugas negara. Bayang-bayang kenaikan pangkat sudah mengalir dalam bayangannya. Rumah dinas kepolisian yang selama ini menjadi idamannya akhirnya bisa terwujud jua. Setelah melakukan tugas ini, mereka akan menempati rumah dinas yang dijanjikan oleh komandan. Dengan demikian, rasa rindu terhadap anak dan isteri dirumah dapat diobati. Sebab dengan adanya rumah dinas ini, mereka bisa berkumpul kembali dengan keluarganya yang dicintainya. Sejak pagi, Ricky dan Toni sudah bersiap-siap. Dengan plat motor milik kepolisian mereka pun bergegas menuju Taman Golf Bukit Tanggerang. Dengan sabar, mereka menanti target operasinya selesai main. Tepat jam dua siang, orang yang ditunggu tunggu akhirnya kelar juga. Mobil BMW Silver dengan plat nomor BKM12DN pun bergegas pergi meninggalkan taman tersebut. Namun Ricky dan Toni merupakan pasukan terlatih yang hebat, mereka dapat mengejar mobil tersebut dan tak berapa lama kemudian terdengar suara,…..dor…dor….dor , dari kaca pintu belakang kiri mobil. Tiga Butir Peluru meluncur menembus kaca mobil, langsung mengenai kepala pengusaha tersebut. Setelah memastikan tembakannya tidak meleset, Ricky dan Toni pun langsung bergegas pergi meninggalkan lokasi. Namun, Ricky dan Toni lupa, masih ada saksi yang hidup. Yakni supir Kamaluddin, yang melihat no plat motor yang digunakan Ricky dan Toni untuk membunuh pengusaha Rajacitra Nugraha Permai itu.

“Gagak 2 dan Gagak 3, melapor pada Gagak 1, ganti !”, mereka membunyikan walki talkinya untuk melapor pada komandannya. “Ya, gagak 1 disini, ganti!”, tutur komandan. Kembali Gagak 2 berkata, “mission is completed, laporan selesai, ganti!”. “Laporan diterima, “good work boys, ganti!”, tutur komandan Romi. Tak berapa lama kemudian, romi menghubungi agus. Kring….kring…..kring,….kring!”. “Halo”, kata Agus seraya cemas mengharap kepastian, “Gus, ini Romi, kamu ndak usah khawatir lagi, masalah sudah diselesaikan oleh anak buahku dengan baik!”, kata Romi. Agus mulai bisa tersenyum, “syukur, kalau begitu Rom, aku bisa tenang sekarang!”. “Terima kasih Rom, terima kasih. Agus, menutup teleponnya sambil tersenyum dengan tenang.

“Kring, kring,…kring, telepon dirumah lastri, isteri kedua kamaluddin berbunyi!”. “Halo, siapa ini ?”, tanya bu Lastri. “Ini saya bu, paidi !”. “Ada apa, paidi?” tanya Lastri. Ini soal ba…pak, bu !”. Iya, ada apa dengan bapak, paidi ?” tanya bu Lastri kembali. Ini bu, ba…pak, ba….pak !”. Ya, tolong katakan dengan jelas, ada apa dengan bapak, paidi!”tanya Lastri, degup jatungnya mulai berdetak kencang. “Ba..pak, ba…pak, dibunuh bu!”, lapor paidi. “Apa, dibunuh?” tanya Lastri. “I…ya bu, i..ya!” kata paidi. “Siapa yang bunuh, katakan siapa yang bunuh bapak paidi ?”, tanya Lastri. “Po…lisi, po..lisi bu!”, mereka naik motor dan menembakkan peluru yang mengenai kepala bapak bu!”. “Gubrak”, mendadak bu lastri jatuh pingsan. Dia tak kuat mendengar lelaki yang dicintainya walau telah mengkhianati cintanya akan mendapatkan balasan dari tuhan dengan cara seperti itu. “Ibu, ibu…kenapa bu?” tanya Sandi. Ia segera berlari kearah ibunya, tatkala melihat ibunya jatuh pisan. “Mbok Sani, Mbok Sani…, tolong saya mbok, ibu pingsan!”, seraya Sandi memanggil pekerja rumah tangga ibunya yang sudah lama ikut tinggal dengan mereka. Mbok Sani pun segera bergegas datang menghampiri Sandi dan Ibunya sambil membawa segelas air putih untuk menenangkan pikiran Lastri. Sejenak kemudian, Sandi melihat telepon masih menggantung diatas meja, Sandi mencoba mengambil alih. “Halo, apa disana masih ada orang?”, tanya Sandi. Tak berapa lama, ada suara dari seberang sana. “Masih mas, saya paidi!” tutur paidi. “Oh paidi, ada apa paidi, mengapa ibu saya mendadak pingsan setelah berbicara dengan bapak ditelepon?” tanya Sandi pada paidi. “Maaf mas, saya tadi cuma kasih tahu sama ibu, kalau bapak telah tewas terbunuh!”, tutur paidi kembali. “Apa!”, “dibunuh!”, “siapa yang bunuh bapak saya, paidi ?” tanya Sandi. “Mungkin polisi pak, karena yang bunuh naik motor yang pakai plat nomor merah, plat nomor polisi!” tutur paidi. “Baiklah pak, sekarang bapak ada dimana?” tanya Sandi. “Sekarang, bapak ada dikamar mayat mas, di rumah sakit Dharma Nugraha Ciputat! “Baiklah pak, saya akan berangkat kesana sekarang!”.

Koran, koran ! Berita hangat, berita hangat! Seorang pengusaha telah mati terbunuh! Berita hangat, berita hangat !. Betapa kagetnya Romi, membaca koran pagi itu. “SEORANG PENGUSAHA MATI TERBUNUH, MENURUT SAKSI MATA POLISI ADALAH PELAKUNYA!”. Ah, mengapa tidak terpikirkan olehku soal saksi mata!”, tanya Romi dalam hatinya. “Mengapa juga mereka harus menggunakan motor dinas untuk melaksanakan tugas”. “Kalau sudah begini, pasti akan terbongkar semunya!” kata Romi dalam hatinya. Tak berapa lama kemudian, suara handphone berdering. Kring….Kring…Kring!. “Halo, Romi ini Agus!”. “Ya, Gus aku sudah berita koran pagi ini. Maaf aku tidak tahu kalau ada saksi mata yang melihat kejadian itu. Aku minta maaf!. Justru aku yang harus minta maaf padamu, Rom!”. “Aku, telah terlalu jauh melibatkan dirimu untuk urusan pribadiku sendiri”. “Kamu justru telah berbaik hati menolongku, meski nyawamu taruhannya”. Kamu tidak salah, Romi! Akulah yang salah! Aku telah mudah terpancing oleh rayuan seorang wanita cantik, yang akhirnya menjebak diriku sendiri. Aku harus berani menanggung resiko atas perbuatanku sendiri, meski nam baik dan martabatku menjadi taruhannya!.

Lastri tidak pernah menyangka bahwa gadis muda yang dikawini secara sirih oleh suaminya justru menjadi “buah simalakama bagi suaminya sendiri”. Yah, Rara seorang wanita cantik yang menjebak Agus dalam sebuah kamar hotel, adalah isteri ketiga Agus yang dikawininya secara sirih. Rara, seorang gadis muda belia mahasiswi jurusan manajemen computer di STMIK Rahardja, Cikokol Tanggerang mulai berhubungan dengan Kamaluddin ketika menjadi “caddy” di Padang Golf Modern Land. Sebelum berhubungan dengan Kamaluddin, Rara telah berkenalan dengan Agus terlebih dahulu. Itulah sebabnya mengapa Agus mau saja menerima undangan dari Rara tersebut untuk datang ke kamar hotel yang menjadi akhir bagi semuanya. Rara yang menjadi primadona taman golf tersebut, mampu membuat Agus maupun Kamaluddin serasa di awang awang bila didampingi oleh Rara ketika sedang bermain golf. Mereka lupa akan isteri dan anak anaknya yang ada dirumah, karena telah bertemu dengan bidadari cantik yang mampu membuat degung jantung pria serasa terhenti ketika melihatnya. Karena kelincahannya, Rara mampu membuat kamaluddin jatuh ke dalam pelukan cintanya. Mereka pun akhirnya nikah siri, dengan catatan apapun yang terjadi dengan Rara dikemudian hari sepenuhnya menjadi tanggung jawab Rara pribadi bukan Kamaluddin sebagai suaminya. Dengan kata lain, anak yang dikandung Rara dari hasil pernikahan dengan Kamaluddin tidak berhak memakai nama Kamaluddin, sebab pernikahan tersebut dimata hukum negara belum sah. Rara tidak peduli akan masalah itu. Karena Rara menikah dengan Kamaluddin juga bukan didasarkan cinta. Rara hanya ingin menikmati kesenangan duniawi yang dirasa mudah diperolehnya apabila menjadi isteri simpanan dari Kamaluddin. Terlebih lagi, Rara membutuhkan biaya untuk menyelesaikan kuliahnya. Biaya yang selama ini dibayar dari hasil kerja kerasnya sendiri, sebab kedua orang tuanya tak mampu membiayai kuliahnya. Jadi, apa salahnya bila Rara jadi “isteri simpanan” seorang penguasaha kaya raya. Yang penting urusan pribadi termasuk urusan kuliahnya berjalan lancar. “Jadi so far so well. Nothing matters”, begitu alam pikir Rara. Dia tidak peduli dengan perasaan isteri Kamaluddin yang menahan sakit hatinya akibat perbuatan Kamaluddin. Rara sama sekali tidak peduli. Dia bilang “kenapa saya harus peduli dengan mereka semua, wong setan saja tidak peduli dengan saya!”, tutur Rara. Setiap kali, orang tuanya mengingatkan Rara untuk menjaga sikap dan tingkah lakunya sebagai seorang perempuan.

Yah, Rara tidak pernah menyalahkan dirinya sendiri atas perbuatannya merebut suami orang. Bahkan boleh dikata, dia merasa senang bila mampu membuat lelaki orang bersembah sujud pada dirinya. Dia merasa bangga dengan kecantikannya yang luar biasa. Kecantikannya yang menurutnya tidak boleh disia siakan, apabila dia ingin lepas dari jeratan kemiskinan yang selama ini mengisi hari-harinya. Rara tumbuh menjadi seorang jelmaan Dewi Wanda Betari Durga. Dewi yang senang menghancurkan kebahagiaan manusia. Begitu pula, dengan Rara. Entah mengapa, ada rasa kepuasan dalam dirinya, apabila para lelaki itu mengagumi kecantikan dan kemolekan tubuhnya secara berlebihan. Dia seakan akan yakin sepenuh hati bila kecantikan dirinya bisa memberikan kekayaan dan materi yang melimpah ruah. Hal yang tentunya hanya bisa diperolehnya, bila berhubungan dengan pria “mapan”, yang rata-rata telah “berkeluarga”.

Kamaluddin kini harus rela terbaring dalam peristirahatannya yang baru. Cinta butanya terhadap seorang gadis muda telah membuahkan kepahitan tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi keluarganya. Di usia nya yang juga terhitung masih relatif muda, Kamal harus kehilangan nyawa akibat ulah “isteri sirihnya” itu. Sementara itu Agus, juga harus menanggung perbuatannya karena terlena oleh rayuan “sang dewi durga”. Dia kini harus merelakan dirinya mendekam dibalik jeruji karena perbuatannya sendiri. Lastri dan Sandi, hanya bisa menangis sedih meratapi kepergian Kamaluddin ke pangkuan ilaahi. Romi, Ricky dan Toni hanya bisa pasrah menghadapi kenyataan kehilangan jabatan maupun martabat akibat perbuatan mereka. Lalu kemana gerangan sang dewi durga ???

Apa yang terjadi dengan sang dewi durga??

Siapa cepat, pastilah dia yang menang!”. Bukan Rara, namanya kalau tidak pakai perhitungan matang. Walau usianya sangat muda, namun karena dia titisan dewi wanda betari durga, dia bisa menghilang tanpa meninggalkan jejak. Dia bersama keluarganya telah meninggalkan kampusnya, sejak berita kematian itu terungkap, bahkan dia pun telah meninggalkan rumah kontrakan yang selama ini ditinggalinya bersama keluarganya di di Kampung Kosong RT 01/04 Kelurahan Panunggangan Utara, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang. Dia dan keluarganya mendadak hilang secara misterius, lenyap bagaikan di telan bumi. Sepertinya dia sudah tahu apa yang akan terjadi, pada saat dia menjebak Agus dalam sebuah kamar hotel. Dia bahkan tak lagi bekerja di Padang Golf Modern Land. Dia bahkan juga tidak datang menghadiri pemakaman kamaluddin yang telah menjadi “suami sirihnya” sejak tahun 2007 itu. Dia benar-benar seorang perempuan yang hebat. Seorang perempuan yang mempunyai strategi perang yang jitu dalam memperoleh apa yang diinginkannya. Namun, dia tidak menyadari bahwa dia atas langit masih ada langit. “Walau di dunia dia keluar sebagai pemenang, namun di akhirat nanti lain lagi perhitungannya!”. Terlebih lagi doa orang-orang teraniaya selalu di ijab oleh Allah SWT. Baik Lastri, maupun istrinya Agus ikut menjadi korban akibat perbuatan Rara. Mereka harus kehilangan orang yang selama ini menjadi tumpuan penompang hidup keluarga. Dengan demikian, mereka telah teraniya secara tidak langsung oleh Rara yang telah menjerat para suami mereka lewat cinta palsu yang diberikan Rara. Walau kini, Rara menghilang entah kemana, namun jiwanya tidak akan pernah bisa selamanya tenang. Karena cinta palsu yang diberikan Rara baik pada Kamaluddin maupun Agus telah membuahkan kepahitan bagi banyak orang. Rara, bersiap-siaplah dirimu menghadapi pembalasan dari sang ilaahi!”, begitu tutur Lastri.

Photo Edisi Lingkungan Hidup - Kiriman dari I Care

Info Teater - Kiriman dari Zhu Khie Thian

Di Bawah Lapisan Es menjadi kolaborasi kedua kalinya antara mainteater dan kineruku (komunitas film independen), setelah sukses mementaskan Electronic City di empat kota, yang merupakan bagian bagian pertama dari tetralogi Das System. Di Bawah Lapisan Es sendiri adalah naskah kedua setelah Electronic City. Setelah itu ada Hotel Palestine dan Amok yang ditulis oleh pengarang namun masih dalam rangkaian tetralogi Das System.

Di dalam kehidupan kita, Das System merupakan sistem Barat, sistem perekonomian, sistem metasistem dari perekonomian, perang, dan produksi image. Das System adalah sebuah gambaran yang mengingatkan kita pada era ’68, keradikalan politik, posisi-posisi di luar ekstra parlementer. Ia merupakan sebuah tema yang di dalamnya terdapat asosiasi-asosiasi.

Di Bawah Lapisan Es berbicara tentang dunia kapitalisme yang menyebabkan krisis perekonomian secara global.
Teks Di Bawah Lapisan Es berisi kumpulan dialog-dialog dan monolog. Dialog hanya ditemui dalam beberepa scene. Sedangkan monolog mendominasi naskah Di Bawah Lapisan Es.

Rasa takut adalah motif dan penggerak utama. Di dalam tokoh-tokoh Di Bawah Lapisan Es, pribadi-pribadi tokoh adalah seorang yang sangat depresif, manager yang sangat fleksibel dengan jati dirinya, yang bertindak dan hidup di depan lensa kamera imaginernya.
Mekanisme dari rasa takut, menggambarkan sesuatu dalam ketakutan dan fantasi yang bergerak. Memang sangat berlebihan tetapi sangat realistis.

Situasi-situasi dan ruang-ruang seperti bandara-bandara, menara-menara perkantoran dan deretan hotel-hotel, ketakutan masa kecil menembus seperti sesuatu ´yang tertinggal´ menjadi sesuatu yang tidak dimiliki dan tidak dilihat. DUNIA MELEBUR UNTUK PERSEORANGAN!!!
Momen-momen tersebut menghadirkan keterasingan bagi tokoh-tokoh, pengalaman luar biasa dari rasa dingin dan kosong, dari kemustahilan metafisik.

Dalam dialog-dialog, konflik sering mengutarakan ketidakjelasan dan kengerian diluar batas-batas kebenaran yang realistis. Monolog-monolog dalam naskah yang terjadi bercerita tentang hilangnya empati yang terjadi di dalam dunia modernisme.

Di Bawah Lapisan Es adalah sebuah naskah yang bercerita tentang titik menggelikan dalam pandangan gelap seseorang dan dunia yang tak berperikemanusiaan. Sistem kapitalis telah terbentuk. Menciptakan dunia yang baru adalah mungkin.

--
Zhu Khie Thian
-mainteater bandung-
Mobile: +62 819.1033.4417
+62 813.9528.1713
(+62 22) 7651.4291

www.mainteater.wordpress.com
emtiarts.blogspot.com
teater-dibawahlapisanes.blogspot.com
zhukhie.blogspot.com

Sabtu, 11 April 2009

Edisi Lingkungan Hidup - Puisi dari Imraatul Zannah


PERAWANKU TELAH PERGI

Cinta, belajarlah untuk mencinta. Jika hari ini burung-burung enggan beterbangan, dan hutan-hutan tak lagi memperdulikan rimbunnya dedaunan, engkau yang mengurai air mataku diantara hitamnya batu-batu, menakar aroma nafasmu di cawan-cawan peradaban

Tapi perawanku telah pergi, menyisakan debu-debu yang luruh dalam banjir air mata anak cucu kita, lahan-lahan kosong, gersang, dan terbuang, memformulasikn bahasanya untuk meratapi keangkuhan gedung-gedung yang menggerayangi wajahnya yang semakin tak berdaya
“Bakarlah indahnya dedaunan dan kicau riang populasi hewan-hewan!” teriakmu

(kita senantiasa dikeramas roh pohon-pohon ketika mesin air matanya mengantarkan sesaji ke meja-meja purba yang memetakan nafas kekuasan di laci-lacinya)

(Kandangan, 11 Desember 2008)

# Puisi dari drap antologi Lingkungan Kalsel

Imraatul Zannah, dengan nama pena Annisa (Kandangan, Kabupten HST, 2 Mei 1982). Dari Madrasah Aliyah Darul Ulum Kandangan, melanjutkan ke PONPES Darussalam Martapura. Buku kumpulan sajak tunggalnya adalah Epilog Hari Ini (2002), dan Jika Cinta Telah Menyapa (2004). Sajaknya yang terhimpun dalam antologi bersama antara lain Potret Tiga Warna (2002), Narasi Matahari (2002), Notasi Kota 24 Jam (2003),Bulan Ditelan Kutu (2004), Bumi Menggerutu (2005), Seribu Sungai Paris Barantai (2006), Kau Tidak Akan Pernah Tahu Rahasia Sedih Tak Bersebab (2006), Kugadaikan Luka. (2007). Kini dia sudah kembali kekampung halamannya di Kandangan.

Edisi Lingkungan Hidup - Puisi dari Diah Hadaning


Fragmen Tanpa Ornamen

hari ini kuwakili
berjuta anak cucu sisa peradaban
dari bumi ijo royo yang abadi dalam gunungan
gemah ripah loh jinawi indah dalam suluk dalang

hari ini kuwakili
kenyataan tak terbilang
hitam kelabu mulai hapus warna hijau
instalasi baru derita para kawula
limbah tak lagi milik sungai
tapi di lidah para pemikir baru
yang ngungsi tidur saat harusnya terharu
menyimak tangis korban ketidak adilan
rembang pagi kuketuk pintu purimu
wahai putera sang waktu
dengar, dengarlah suara jiwa
anak cucu Ki Suto Kluthuk
windu-windu hidup tersaruk

hari ini kubersaksi
diantara langkah-langkah dan sabarmu
adalah para Durna dan Sengkuni
yang muncul salah jaman

(DiHa-Cimanggis, Juli 2005)

# Dimuat dalam buku antologi puisi Bumi Ini Adalah Kita Jua, halaman 25, diterbitkan oleh Pusat Dokumentasi Sastra H.B.Jassin, tahun 2005


Diah Hadaning (DiHa), lahir di Jepara, Mei 1940. Lulusan Sekolah Pekerja Sosial Semarang tahun 1960, menekuni penulisan sajak sejak tahun 1970-an hingga sekarang.
Tahun 1980 menerima penghargaan dari Gabungan Penulis Nasional (GAPENA) Malaysia, tahun 1994 penghargaan puisi tema hutan EBONI Jakarta, tahun 2003 penghargaan dari Pusat Pengkajian Kebudayaan Jawa di Surakarta.
Karya-karyanya di muat diberbagai media cetak pusat dan daerah, sebagian besar telah dibukukan, tampil tunggal maupun antologi. Selain pusi juga menulis cerpen, novel, terjemahan dongeng anak-anak dunia, naskah lakon (drama bahasa daerah).
Mottonya : Dengan puisi aku berarti, dengan pusi aku bersaksi.

Edisi Lingkungan Hidup - Puisi dari ARAska


BANJAR BANJIR INDONESIA BANJIR

banjar banjir banjir banjar banjar banjir
indonesia banjir indonesia banjir
tiaphari kudengar berita banjir
di koran banjir di radio banjir di televisi banjir
rumah-rumah berenang dalam air banjir
duka hati banjir

banjar banjir banjir banjar banjar banjir
banjar banjar banjar banjar banjar
banjir banjir banjir banjir banjir
malam ini hujan tak mau berhenti banjir
lantai rumahku sudah mandi air banjir
apakah atapnya akan menyelam banjir

banjar banjir banjir banjar banjar banjir
banjar banjar banjar banjar banjar
banjir banjir banjir banjir banjir
siapakah yang akan kusalahkan atas banjir
yang akan kukutuk dipersalahkan untuk banjir

banjar banjir banjir banjar banjar banjir
banjar banjar banjar banjar banjar
banjir banjir banjir banjir banjir
sungaiku di banjar telah mengecil jadi trotoar kini banjir
sungaiku di banjar di makan rumah dan bangunan maka banjir
sungaiku di banjar penuh sampah jadilah banjir

banjar banjir banjir banjar banjar banjir
banjar banjar banjar banjar banjar
banjir banjir banjir banjir banjir
mereka rusak hutanku pelindung banjir
mereka tebang pohonku serapan banjir
mereka gali gunungku jadi lubang banjir
banjar banjir banjir banjar banjar banjir
banjar banjar banjar banjar banjar
banjir banjir banjir banjir banjir
ladangku jadi kolam banjir
padiku tenggelam banjir
panenku di telan banjir

banjar banjir banjir banjar banjar banjir
banjar banjar banjar banjar banjar
banjir banjir banjir banjir banjir
siapakah yang akan kusalahkan atas banjir
yang akan kukutuk dipersalahkan untuk banjir
cuaca rusak tiada menentu bila hujan jadi banjir
cuaca rusak tiada menentu bila panas jadi kemarau banjir
cuaca rusak tiada menentu rumah kaca membanjir
cuaca rusak tiada menentu polosi udara membanjir

banjar banjir banjir banjar banjar banjir
banjar banjar banjar banjar banjar
banjir banjir banjir banjir banjir
siapakah yang akan kusalahkan atas banjir
terkutuklah para penyebab banjir
banjir banjir banjir banjir banjir
jirban jirban jirban jirban jirban
ban ban ban ban ban
jir jir jir jir jir
ir ir ir ir ir
air air air air air
air mataku banjir
air mata kami banjir
banjar banjir
indonesia banjir

(ARAska - Bjm-Kalsel)

Cerpen dari A. Setia Budhy

Gadis Dayak

Minggu yang cerah, aku berangkat ke Balai-balai, tempat di mana penari Balian selalu berkumpul sebelum upacara adat dimulai. Kalau engkau melakukan perjalanan kepegunungan Meratus, kata Tiana sahabatku, maka berhentilah di Balai-balai yang letaknya tak jauh dari rumah ketua adat Desa Mangkiling. Dan jikalau engkau merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu, katakanlah menjadi seorang wisatawan, maka bolehlah engkau mengenal salah satu dari gadis Dayak yang pandai menari Balian itu. Dan, engkau akan merasakan sendiri betapa kehidupan Suku Dayak itu sungguh eksotik, menyenangkan, dan tenteram.

Aku mengenang tahun 2002 yang indah. Tiana, lengkapnya Gustiana, adalah sahabat yang mempunyai penialaian yang amat tinggi terhadap budaya dan tradisi orang-orang meratus. Tiana senang menjelaskan kepada siapa saja yang berkunjung ke Balai-balai. Apalagi, kalau kunjungan itu tepat pada sebuah upacara adat panen padi, upara pemberian berkat pada leluhur, kelhiran anak, atau upacara perkawinan. Semua gadis Dayak akan keluar rumah, dan tentu saja mereka akan menari di Balai-balai.

Aku suka Meratus dalam setiap musim apa saja. Di pegunungan Meratus, kau tidak dapat membedakan antara musim hujan atau musim kemarau. Kedua musim itu sama saja. Alam terbiasa tenang, hutan kelam, dan kicau burung-burung beterbangan. Sungai mengalir dari selasela pohon dan terjun dari bukit ke danau. Pada musim hujan, kupu-kupu biasanya muncul dari balik semak belukar dan anggrek tropika bergelantungan pada pohon maranti. Jalak batu bersiul melengking sementara enggang dengan bangga mengepakkan sayapnya, berwibawa. Musim hujan memberikan kepuasan pada batin yang kerontang ketika mendengar suara air bening yang berjatuhan di sela daun-daun. Alam Meratus begitu sempurna melukiskan beragam warnanya.

Apabila aku berdiri memandang dari bukit Mangkiling, pada ketinggian yang cukup untuk melihat lembahnya, lalu pandang lurus ke depan menatap langit yang memberi atap pada Meratus, sesungguhnya aku telah berada di sebuah rumah panggung besar yang indah, suatu kawasan yang akan segera menghilangkan bau pesing kota-kota kotor berlumpur debu. Lembah yang hijau dan hutan yang kemilau memancarkan penciptaan yang maha sempurna. Aku percaya mengapa Tiana lebih menyukai tinggal di Meratus dan berhenti menjadi pengajar biologi di Universitas. Aku telah memahami mengapa engkau lebih suka mengembara di hutan Meratus dan memutuskan untuk pension sebagai pengajar biota hutan di universitas terkemuka.

Meratus adalah suatu kawasan pegunungan di kaki Gunung Schwaner yang melintang pad empat kawasan di Pulau borneo. Jarak Meratus sangat panjang dari barat ketimur dan dari selatan ke utara, seluruhnya menjangkau semua kawasan di pulau Borneo. Tiana mengatakan, cobalah sekali waktu meneruskan perjalanan dari Meratus ke kawasan Muller sebelum akhirnya berhenti di Sabah Kini Balu. Meratus benar-benar sebuah impian yang paling indah ketika engkau pada ahirnya menemukan realitas bahwa kota-kota semakin bobrok bila dibandingkannya.

Aku tak ingin engkau percaya begitu saja dengan meratus seperti halnya dongeng hutan lebat Amazon dengan Anaconda yang ganas. Tetapi, kalau engkau suatu ketika datang ke sana, kau akan merasakan semua kehangatannya. Kau akan bicara dengan gadis-gadis Dayak dan mereka dengan senang hati mengajari tari Balian semalam suntuk di Balai-balai. Atau, kalau engkau datang ke Meratus, gadis Dayak akan menganggap engkau adalah tamu yang perlu untuk dilayani dengan sepenuh hati, mereka hormat dengan kesantunan dan kepolosan. Aku tak ingin kau tak percaya, bahwa para tamu yang datang ke Meratus merupakan bagian dari rumpun keluarga, itu sebabnya kau tak perlu khawatir apakah akan kehabisan bekal selama tinggal di Meratus. Engkau akan menikmati buah-buah dari hutan tropic yang lebat. Dan tubuhmu akan segera menjadi kuat kalau terbiasa meminum air akar pohon pasak bumi yang meningkatkan stamina. Tak perlu berpikir soal tablet da suplemen vitamin. Sebab, hutan tropika Meratus menyimpan berjuta-juta suplemen.

***

Sekarang, aku telah berada di Meratus bersama Tiana. Aku menykai sahabatku yang satu ini disebabkan keberaniannya berhenti sebagai pegawai pemerintah. Berhenti mengajar adalah sebuah impian dari apa yang sering kali dia sebut sebagai keruwetan universitas yang tidak membebaskan, benang kusut akademik yang tidak memberi ruang untuk berkreasi, suasana universitas yang telah menjadi birokrasi. Setiap kali upacara dies natalis maka bisa saja merupakan awal dari malapetaka bagi masa depan manusia. Aku suka Tiana, disebabkan keputusannya yang melopat jauh kedepan untuk segera mengakhiri masa-masa sulit di unvesitas yang jelas merantai kaki dan tangan, memenjarakan pikiran, dan menenggelamkan hati. Keputusan yang sangat berani dan mngkin tidak semua orang dapat melakukannya, berhentisebaga dosen, seorang peneliti dan pengajar di universitas dengan segala kemegahan gedungnya.

Gustian banyak bicara soal negeri yang indah, tetapi dihuni oleh para bangsat; negeri yang kaya raya, tetapi dikangkangi oleh para koruptor; dan negeri yang setiap hari menyediakan segalanya menjadisangat murah. Engkau tahu bahwa setiap hari nyawa-nyawa terus melayang bergelimpangan di jalan raya atau terbenam di dalam selokan dengan kepala yang melayang lepas keangkasa. Setiap hari anak-anak kehilangan ibu mereka yang diterkam oleh anjing-anjing kota yang bengis. Atau, pada suatu ketika anak-anak itu sendiri menjad korban makanan empuk gerombolan anjing yang merenggut tas, sepatu, kaos kaki, buku gambar, topi, gelang, dan antingnya di sudut kota sehabis pulang dari sekolah. Gedung universitas yang megah, tetapi penghuninya adala para penyamun.

Di Meratus, aku adalah pembebasan, menelusuri jalan yang berjuta kilometer dari telapak kaki para kolonial yang pertama datang ke sini mengangkut habis rempah-rempah. Aroma kayu manis, gaharu, batu-batu, anggrek bulan, dan serangga yang tentu saja belum kau temukan dalam buku apapun, termasuk dalam hand book of biology dan aneka ragam hayati yang lewat begitu saja oleh mereka yang menyatakan diri sebagai guru besar biologi di unversitas. Mengapa Rafflesia Arnoldi ditemuka oleh Sir Thomas Stanford Reffles, padahal hutan tropika Telah menyimpannya sekian juta tahun yang lalu. Orang-orang selalu bicara tentang sesuatu yang tumbuh di hutan tropika dan misionaris juga bicara tentang orang-rang Meratus yang eksotik, mengenai sistem kepercayaan dan adat-adat apalagi Gadis Dayak. Ya, orang-orang hanya berbicara tak lebih hanya sebagai seorang turis yang melintas sementara, kemudian sesuadah itu pergi.

Di mangkiling, sebuah kamung yang berada di salah satu tebing Meratus, kehidupan burung, monyet, anggrek, beragam jenis kayu, rotan, dan sarang burung semakin gemetar da terpojok dari dekap sejarah hutan tropika ketika segerombilan anjing kota datang untuk segera melahapnya. Anjing-anjing kota itu tidak mau pedul dengan segala nasib dan pilu tangis, yang penting bagi anjing adalah makan dan melahap dengan buas segala pohon, batu-batu, emas, pasir kwarsa, dan Balai-balai.

***

Berita peihal Gustiana yang berhenti dari mengajar di universitas, akhirnya sampai juga ke daun-daun telinga pengajar yang lain, termasuk ketua jurusan, dekan, dan rektor. Pada mulanya banyak yang menyatakan sangsi, tak percaya aka berita aneh itu yang mereka anggap sebagai kabar burung dan sangat-sangat tidak mugkin. Ini dunia telah jungkir balik atau bagaimana, sebab ketika tiga juta orang menunggu giliran untuk mengikuti seleksi pegawai negeri di pemerintahan, Tiana bahkan menyatakan berhenti sebagai pegawai negeri.

Dua mingu setelah ia meletakkan jabatan sebagai seorang dosen, telepon berdering di rumahku. Minggu ketiga, puluhan ikat bunga berdatangan. Bahkan pada minggu ke empat dan seterusnya, bunga terus berdatangan dengan alamat dari segala penjuru. Aku tak megerti mengapa telepon dan ribuan kembang itu justru berdatangan ke rumahku. Padahal, kembang itu ditujukan kepada yang terhormat Ibu Gustiana. Pada setiap kali aku ingin menolak bunga-bunga, pengantar bunga bahkan marah dan menudingku tidak bertanggung jawab. “Kalau kau menolak bunga, maka aku akan laporkan ke polisi bahwa kau telah merusak sejarah bunga. Kau telah menolak Shakespiere yang berkata, ‘Katakanlah dengan bunga.’ Tidak ada dalam sejarah pengiriman bunga bahwa sekuntum kembang yang telah jelas alamat dan orang yang dituju akan ditolak oleh si penerimanya. Bunga yang dikirim oleh tukang kebun atau kembang yang diantar dalam pot hingga selamat sampa ketangan dan tujuan haruslah disyukuri.’ Pengantar bunga dan tukang kebun tampak geram dengan niatku.

Ketka aku bosan memandang bunga yang ribuan ikat itu, aku kemudian megunci rapat pagar rumah, menutup pintu dan pergi menjauh ke hutan Meratus. Tetapi, baru satu malam menikmati tidur lelap di Balai-balai, aku mendapat kabar dari ibuku yang memintaku segera pulang untuk mengurus bunga-bunga itu yang membanjiri ruang tamu. Kata ibu, ruang keluarga dan kamar-kamar tidur telah penuh sesak bertumpuk-tumpuk bunga. Bahkan, bunga-bunga telah berserakan hingga kamar mandi, tempat tidur anak hingga mencapai ruang baca di lantai dua. Karena pintu telah terkunci, rupa-rupanya bunga-bunga itu dimasukkan begitu saja oleh tukang kebun melalui jendela, lubang ventilasi, bahkan dimasukkan melalui salah satu atap rumah yang bocor. Ibuku jelas tak mau membuang bunga-bunga itu, sebab pada setiap bunga selalu ditulis tangan oleh pengirimnya “ucapan selamat”. Karena takut mengkhianati ibu dan baktiku padanya, aku segera pulang.

***

Menjelang penerimaan mahasiswa baru, rektor bersama senat universitas mengumumkan sesuatu yang memang amat pahit, universitas dinyatakan ditutup. Tetapi, ini harus dilakukan yang katanya sampai pada waktu yang tidak dapat ditentukan. Penutupan universitas dipandang sebagai langkah yang penting dengan mempertimbangkan bahwa mahasiswa tidak dapat belajar. Ini adalah pilihan paling dramatik sebab semua dosen tidak ada yang mau mengajar. Para dosen menyatakan berhenti dan memutuskan untuk mengambil pensiun dini. Dalam surat yang telah ditandatangani dan diantar langsung kepada rektor, seluruh pengajar menyatakan mundur dari jabatan sebagai dosen dan memilih mengikuti jejak Tiana. Delapan ratus dua puluh lima dosen universitas dengan berbagai disiplin ilmu menyatakan segera bergabung dengan Gustiana dan orang-orang Meratusnya. Ahli-ahli fisika, kimia, matematika, ekonomi, antropologi, sosiologi, politik, ahli hutan, tanah, ahli kelautan, perikanan, tekhnik mesin, ahli lingkungan, ahli penyakit dan hama, pertanian, ahli linguistic, dan ratusan dosen kedokteran menyatakan bergabung ke hutan tropika Meratus dan segera mendirikan Balai-balai yang membebaskan mereka untuk berpikir. Balai-balai yang membebaskan dosen itu dari belenggu pengetahuan yang selama ini adalah racun. Masuk akal kalau rektor menyatakan menutup universitas yang dia pimpin, sebab seluruh dosen dalam waktu yang bersamaan menyatakan berhenti mengajar.

***

Langit kelabu, hujan menyerbu Meratus. Tetapi, orang-orang Meratus menghabiskan waktu mereka di Balai-balai, membunyikan musik, gong, gendang, dan kenong. Gadis-gadis Dayak melenggak-lenggokkan tubuh mengiringi tabuhan kenong dan bernyanyi, merintih pilu dalam tari tradisional Balian. Desau hujan dan tempias menerjang jendela yang dikunci dengan rotan. Hujan seakan menyampaikan selamat datang kepada para dosen, selamat datang di Universitas Hutan Tropika Meratus. Orang-orang Meratus telah mempunyai sahabat seperti Gustiana, gadis Dayak yang kukenal, beserta delapan ratus dua puluh lima lainnya. Gadis-gadis Dayak merasa tak mau berhenti menari Balian, kecuali anjing-anjing kota yang maunya terus menerkam mencari mangsa.

Kuala Lumpur, 3 Januari 2005

Dari buku kumpulan cerpen Gadis Dayak, terbitan Pustaka Pelanduk 2006.

Ulasan Buku - 1

MENGEMBARA MENCARI TUHAN

Diterbitkan oleh Q-Press, tahun 2005
Warna sampul buku kuning coklat, tebal buku 652 halaman.

Diterjemahkan dari buku aslinya berbahasa Arab :
Qishshah al-Iman bain al-Falsafah wa al-‘Ilm wa al-Qur’an
Karya Syaikh Nadim al-Jisr

Sebuah Novel Religius Petualangan Intelektual dalam Menemukan Kebenaran
Ditulis berdasarkan cerita nyata perjalanan hidup seseorang dalam mencari Tuhan

Sejarah umat manusia sesungguhnya tidak pernah sunyi dan sepi dari orang-orang yang mengembara mencari Tuhan. Karena dorongan fitrah dalam dirinya, umat manusiapun melakukan pencarian demi pencarian Tuhan sejati. Bagi sebagian orang, agama memang memberikan jawaban. Akan tetapi, sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun silam, dunia telah diramaikan para filosof yang terlibat seru dalam diskursus teologis (ihwal ketuhanan), ontologism (ihwal asal usul alam semesta) dan epistemologis (ihwal asal usul ilmu dan pengetahuan)

Buku berbentuk novel ini bertutur ihwal liku-liku perjalanan para filosof maupun ilmuan – di Timur (Al Ghazali, Ibnu Rusyd, Al Ma’arri, Ibn Miskawayh, Ibn Thufayl, Al Farabi, Ibn Sina, Ar Razi, Al Bayruni, Al Jahiz, Husayn Al-Jisr) maupun di Barat (Parmenides, Milissus, Heraclitus, Empedocles, Demokritus, Socrates, Aritoteles, Plato, Stoa, Epicuris,Immanuel Kant, Thomas Aquinas, Francis Bacon, Roger Bacon, Descartes, Pascal, Malebranche, Spinoza, Locke, Leibnitz, Hume, Henry Bergson, Charles Darwin, Lamarck, Cope, Agaciez, Ernest Haeckel, Herbert Spencer, Gladstone, Hudge, Dufield, Lee), di masa lalu maupun di zaman modern – dalam pengembaraan mereka mencari Tuhan. Sebagian besar dari mereka memang benar-benar menemukan “Tuhan”. Namun, sebagian lainnya tenggelam dalam “igauan” yang tak jelas ketika mencoba memaksakan diri untuk menjangkau esensi Tuhan. Mereka mengembara terlalu jauh dibelantara metafisika. Akibatnya tak sedikit dari mereka yang terjebak dalam perangkap skeptisisme dan bahkan ateisme vis-à-vis keimanan kepada Tuhan.

Pencarian Tuhan dengan melakukan peninjauan dari beragam ilmu pengetahuan, fisika, kimia, biologi, matematika, sosial, astrologi, astronomi, estitika dll

Esai dari ARAska

BULAN DI ATAS KUBURAN


Malam lebaran
Bulan di atas kuburan


Adalah puisi dari Opong Sitor Situmorang (dilahirkan di Harianboho, Tapanuli Utara, 2 Oktober 1924), diantara sekian banyak puisi beliau, puisi inilah yang telah sekian tahun hingga kini masih tetap melahirkan beragam penafsiran dari masyarakat sastra maupun masyarakat umum. Dari hasil pembicaraan dengan Opong beberapa waktu yang lalu di kantin TIM-Jkt (saat acara Pekan Presiden Penyair), terungkaplah latar penyebab lahirnya dan makna sebenarnya dari penulisnya sendiri terhadap puisi “Malam lebaran – Bulan di atas kuburan”.

Untuk puisi tersebut, kata Pak Micky Hidayat (Banjarmasin) berkata ; “Aku belum menemukan maksud penulisnya, karena sangat filsafat sekali, adanya kontradiksi fenomena alam. Pada malam lebaran bulan belum muncul, sedang dalam puisi tersebut bulan telah ada.”

Ketika aku bertanya dengan Bunda Diah Hadaning (Bogor) akan pengertian/ pemaknaan terhadap puisi tersebut sebelum mengetahui latar kejadian dari penulisannya, Bunda berkata: “Pada awalnya aku menangkap dalam puisi tersebut akan keheningan yang syahdu. Puisi itu sangat ekonomis kata, dengan kata yang ekonomis itu bisa dijabarkan menjadi sebuah cerpen ataupun novel.”

Bang Dimas Arika Mihardja (Jambi), melalui sms, berkata ; “Ada yang menafsirkan puisi itu, kebahagiaan di atas penderitaan, bahagia mengatasi derita. Sitor melihat kuburan di malam lebaran, di malam lebaran orang-orang bahagia lantaran bisa keluar dari derita sebulan, keindahan mengatasi penderitaan, dll.”

Bang Sindu Putra (NTB), dalam tulisannya antara lain berkata ; “Sebuah puisi sederhana yang maha rumit, konfleks dan mengundang multi tafsir. Sajak ini dapat diterjemahkan keadaannya, bagaimana seorang pada saat malam lebaran, di mana lebaran terjadi pada saat bulan mati sehingga langit gelap dan tanpa bulan sama sekali. Sajak ini mengingatkan untuk menyadari terus-menerus bulan yang ada di atas kepala itu merupakan sebuah kuburan bagi jiwa yang lelah, bagi tubuh yang lemah. Bulan, menjadi tempat hasrat mendongkakkan impian, merupakan kuburan untuk segala yang tanpa cahaya. Segala yang belum menemukan pencerahan. Pembaca dituntun untuk tidak mendongkak takabur, untuk hanya melihat keatas. Namun malam lebaran semestinya dijadikan momentum menundukkan diri, sujud tafakur, melihat bumi, tanah , melihat diri sendiri, dan kenyataan hidup yang riil, yang ada dibawah langit. Dengan pengertian yang sederhana, sajak ini mengajak untuk memaknai lebaran sebagaimana filosofinya sebagai kelahiran kembali, menjadi fitri.

Bang Irmansyah (Jkt), melalui sms, berkomentar; “Awalnya memang mustahil, bulan tak bakal ada : baru syawal pertama. Namun cahaya tak dapat di pisahkan begitu saja dari bulan.”

Sobat Rian (Purwokerto), melalui sms, berkata; “Sebuah puisi singkat tetapi panjang , membutuhkan perjalanan batin yang sangat luar biasa bagi penciptanya. Sitor memaknai malam suci sebagai malam puncak bagi seluruh ibadah dan sebagai awal kehidupan baru bagi manusia, seperti halnya kematian yang merupakan kehidupan baru di alam baru bagi manusia.”

Aku bertanya dengan Opong; “Sampai sekarang puisi Opong (malam lebaran – bulan diatas kuburan) selalu ditafsirkan secara beragam, terbanyak penafsirannya secara religi. Apa arti sebenarnya! dari Opong sendiri ?

Opong Sitor Situmorang tertawa, beliau menghentikan suapan-suapan dari semangkuk bakso yang ada dihadapannya. Abah Arsyad Indradi (Banjarbaru) menyela; “Selesaikanlah dulu santapan baksomu, baru bercerita.” Opong membantah; “Jangankau minta aku teruskan makan kalau aku mau bercerita-lah”. Setelah menyeka mulutnya dengan tisyu, Opong kembali berkata; “Aku juga heran dengan bermacam penafsiran orang terhadab puisiku itu, tetapi aku senang saja karena aku tidak ambil peduli, sebenarnya puisi itu terlahir pada saat aku pulang ke Indonesia dari negeri Belanda, saat itu malam lebaran, aku ingin mengunjungi seorang sahabat dan mampir kerumahnya, tetapi sahabat yang ingin kutemui itu tidak ada di rumah. Lalu aku kecewa dan pada perjalanan pulang aku lewat di depan sebuah kuburan belanda. Kemudian lahirlah puisi tersebut.

Astaga Opong, betapa sederhana pengertian puisinya. Hanya karena kecewa tidak bisa bertemu dengan teman lama. Terlepas dari semua itu, sebuah pemaknaan dan pengertian akan sebuah puisi atau sajak atau syair, kita kembalikan kepada pribadi masing-masing, tergantung dari pada latar pendidikan maupun sifat individu manusia. Tetapi hal yang paling parah dan harus dihindari adalah ketika memaknai sebuah puisi yang berlandaskan pada kedangkalan pemikiran atau kefanatikan akan sesuatu oleh individu atau kelompok tertentu, kemudian melahirkan tuduhan penyalahan dengan mengikut sertakan emosi yang meledak atau yang lebih ekstrim lagi hingga “pengkafiran”. Di balik kata-kata ada makna, dibalik kata-kata ada pengertian yang berbeda dari yang tersurat.

Bang Sutardji Calzoum Bachri, berkata; “Semakin beragam pemaknaan dan pengertian terhadap suatu puisi maka semakin kayalah puisi tersebut, bahkan salah pengetikan dalam sebuah karya puisi juga merupakan nilai tambah bagi pemaknaan puisi tersebut. Memang pada kenyataannya penyair yang serius selalu mengembarakan perasaannya feeling dzauqnya pada lembah lembah dasar dari duka suka kemanusiaan dan selalu konsentrasi pada penciptaan karya puisi…., Profesi penyair adalah menciptakan sajak, dan bukan mengerjakan sajak atau merealisasikan sendiri puisinya menjadi kenyataan. Tugas terakhir ini dibebankan pada pembacanya. Pada para pembacalah terjadi realisasi dari puisi itu berupa perasaan, empati, simpati dan sebagainya dan berikutnya realisasi psikologis ini berkembang menjadi realisasi kongkrit di dunia nyata berupa tindakan-tindakan yang terinspirasi dari sajak tersebut. Karena profesi para penyair cenderung tidak mengerjakan apa yang dikatakannya, maka ada ruang bagi penyair untuk cenderung bisa tergoda untuk bebas tidak memperdulikan pertanggung-jawaban terhadap karya-karyanya. Ruang bebas itulah yang diberi peringatan oleh Tuhan agar kebebasan yang dimiliki penyair selalu dikaitkan pada iman (kecuali para penyair yang beriman), yang pada hemat saya kalau ditafsirkan secara duniawi bisa berarti para penyair serius yang selalu melandaskan dirinya pada kebenaran dalam meningkatkan atau mengembalikan martabat manusia sebagai makhluk termulia di bumi. Dalam fungsinya sebagai karya yang ingin melandaskan dirinya pada kebenaran dan martabat manusia yang luhur itulah puisi menjadi penting. Penting dilihat dari sisi manusia sebagai individu. Puisi bisa meninggikan dan meluhurkan martabat manusia, dan penting dari sisi sosial puisi bisa menjadi inspirasi untuk menciptakan sejarah. Dilihat dari sisi kenyataan maupun secara teoritis puisi bisa menjadi unsur yang menciptakan sejarah, sebagaimana firman Tuhan menciptakan sejarah jagat raya.

(ARAska-2007)

Jumat, 10 April 2009

Prosa dari ARAska

MASA AKHIR SEBUAH PRODUKTIVITAS
MENGALI HAKIKAT TAWADHU

Chairil pun Mengalaminya

Ketika seorang konseptor,
telah mengabaikan kemampuan konsepnya,
yang terlupakan.
Ketika sang sastrawan,
telah ditinggalkan kreatifitasnya,
yang terlewati dalam perjalanan.
Ketika sang seniman,
telah melewati kebutuhan seninya,
yang telah lalu dalam kehidupan.
Ketika sang pujangga,
telah terkubur bersama kebuntuan.


Kenyataan diatas sesuatu yang akan ditemui oleh setiap individu manusia. Batas akhir dari sebuah produktivitas, puncak akhir dari suatu perjalanan karier.
Seperti itu pulalah kontrak kehidupan yang harus diemban oleh manusia, ketika mereka telah mencapai klimaks dari perjalanan hidupnya. Semua yang ada didirinya akan menghilang satu persatu. Kemampuan yang semakin menurun, kecantikan dan kegagahan yang semakin memudar, harta yang makin terkikis. Nama yang harum pun dalam perjalan waktu kan kian terlupakan dari benak manusia yang lain.

Waktu merangkak pasti,
Dari pagi mencapai puncak siang,
Pelan dan pasti,
Menemui senja.
Senja kan mengejar cemerlang rembulan,
Hingga mentari usir dia dari singgasananya.

Adakah kuntum bunga yang kan terus mewangi,
Ia kan ditelan oleh napas waktu.
Adakah kemegahan yang kan terus abadi,
Ia kan tenggelam bersama bumi.


Itulah aturan hidup yang harus dijalani manusia. Sebelum terlambat, haruslah kita sadari. Kita adalah hamba – bukan Tuhan. Kita tiada abadi. Entaskan kesombongan sebelum menjadi penyesalan, menyadari keterbatasan diri. Jangan menjadi iblis yang tiada pudar keangkuhannya walau menjadi makhluk terkutuk yang terusir dari kejayaannya.

Ketika kita kehilangan kemampuan dan kreatifitas, usahlah mengungkapkan beribu alasan – menyalahkan apa yang bisa disalahkan. Hanya untuk menghindari tuntutan, hanya untuk mengatakan ke aku an. Yang hanya akan menyemai keingkaran. Hanya satu alasan yang pasti “inilah diriku, aku adalah hamba”.

Dalam dunia sastrawan dapat pula hal tersebut kita lihat, seperti pada diri “Chairil Anwar”. Ketika dia telah menemui masa akhir dari produktivitasnya. Kita dapat membaca sajak Chairil yang dijadikan penutup, yang oleh Takdir Ali Sjahbana diterbitkan dalam antologi yang berjudul “Yang Terampas dan Yang Putus”, oleh Takdir Ali Sjahbana diubah judulnya itu. Judul aslinya ialah “Yang Terampas dan Yang Luput”. Waktu menulis sajak itu, Chairil sudah pada kondisi yang secara produktifitas hampir habis. Dan dia sadar dengan keadaannya itu. Sama seperti penyair Elshott, yang hanya menerbitkan satu kumpulan saja. Sesudah itu ia tidak pernah menulis sajak lagi, karena dia merasa tidak mempunyai kebutuhan untuk menulis sajak kembali. Dan Chairil pada waktu itu berada dalam kondisi yang demikian. Ia mendekati saat-saat penghabisan dan tidak lagi melihat titik terang kedepan. Sehingga waktu itu Rivai Apin mengatakan : “Sudahlah Chairil, kamu mengalah”. Dan sesudah itulah Chairil menulis sajak yang terakhir tersebut. Ia sempat marah mendengarkan omongan orang, bahwa Chairil sudah tidak menulis sajak lagi. Dan kemarahannya itu sering ia tumpahkan dalam bentuk sikap liar dalam menjalani kehidupan.

Untuk itu kita terima kenyataan
sebuah proses alam
proses takdir makhluk,
Menembus batas
makna kehidupan
dalam proses
hakekat Tasawuf – Tawadhu.

(ARAska-Sekumpul-Martapura-Kalsel, Mei 2003)

Naskah Teater Improv dari ARAska

Skrip

SKETSA KITA REALITA KEBANGKITAN NASIONAL

Naskah adaftasi situasi Indonesia oleh ARAska
Dimainkan oleh adik-adik binaan di SMPN 15 Banjarmasin dan SMPN 4 Banjarbaru


Sinopsis:
Sekian puluh tahun telah berlalu, dari semenjak kemerdekaan, perubahan nasih belum seperti yang diharapkan.

Babak I

Setting : Bangku (ruang keluarga)
Pemain :
Ibu; karakter: sudah sangat tua, pakaian sangat sederhana,
Kakak; karakter: pemalu, rajin, polos dan pantang menyerah, pakaian sangat sederhana
Adik; karakter: agak terbelakang, pakai dot bayi, rajin membantu

Musik latar : orang pinggiran (frangky)

Sinopsis:
Diantara keadaan himpitan ekonomi, diantara orang-orang pinggiran, orang-orang kecil yang berjuang untuk hidupnya, untuk pendidikannya.

Alur:
Ibu keluar dari kamar, dituntun adik, lalu duduk di kursi, sambil menjahit baju. Wajahnya menunjukkan keprihatinan dan beratnya beban hidup yang dihadapinya. Adik bermain di samping ibu.

Kakak datang dari pulang sekolah lalu mengucap salam, adik menyambutnya dengan gembira.
Kakak bersalaman dengan ibu.
Ibu diam sesaat menatap kakak sambil menarik nafas dalam-dalam dengan prihatin, lalu berkata :

Ibu: nak, aku sudah kada kawa lagi mambiayai ikam sakulah, gasan makan haja kita ngalih, haraga-haraga makin balarang, gawian mama bajajahit kaini haja, abah ikam sudah kadada lagi, ading ikam nang kaya ngini pulang.
(batuk-batuk, sambil membelai rambut adik)

Kakak: ma, pian kada usah talalu mamikirakan ulun, ulun bisa haja mancari duit saurang, gasan bayar sakulah. Ayu ma kita kadalam, pian istirahat ja dulu, kaina batukannya batambah, biar ulun nang manuntungakan gawian.
(berdiri menuntun ibu, kekamar)

***

Babak II

Setting : panggung
Pemain :
Kakak; karakter: pemalu, rajin dan pantang menyerah, pakaian sangat sederhana
Adik; karakter: agak terbelakang, pakai dot bayi, rajin membantu
Teman-teman sekolah; karakter: anak orang berada, pakaian rapi dan modis, sok gengsi, ceriwis, suka mengolok-olok, pakai bahasa gaul campur bahasa banjar.
Ibu guru honorer: baik hati, sangat sederhana.

Musik latar : orang pinggiran (frangky)

Sinopsis:
Berharap hari ini memperoleh rejeki untuk biaya sekolah, walau esok masih belum pasti, tetapi ejekanlah yang ditemui. Diejek oleh anak-anak yang terimbas moderenisasi, yang terbiasa dengan kehidupan yang berlebih. Dan guru-guru pengajar yang masih banyak menatap hari yang tidak peduli. Pembangunan masih menyingkirkan mereka dari panggung harapan kehidupan layak.

Alur:
Kakak berkeliling sedang berjualan kue, ditemani adiknya. Lalu bertemu dengan teman-teman sekolah, yang lalu mengejeknya.
Teman 1: ih, siapa tu, rasanya aku pinandu
Teman 2 : ai, amun kada salah itu si aluh, nang bajunya kada suah bagusuk dikalas.
Teman 3 : iya ai, si aluh, jih sakalinya bajualan wadai.
Teman 1: astaga, adingnya, lucunya, nang kaya urang babungulan.

……………………………………improv………………………………………

Kakak malu bertemu dengan teman sekolahnya, berjalan cepat sambil menunduk, sambil menarik tangan adiknya. Setelah melewati adiknya, ia menabrak ibu guru, yang berjalan sambil membaca buku. Teman-teman, yang melihat ada ibu disitu, lalu langsung ngacir.
Kue jualan kakak berantakan, ibu guru menatap heran, kemudian membantu mengumpulkan kue yang berantakan.

Ibu guru : ai, kanapa ikam nak. Mun kada salah ikam si aluh kalu. Umai, bajualan wadai kah ikam.
Kakak: inggih bu, ma’af ulun kada malihat pian, jadi taranjah, ulun bajualan gasan bayar sakula. Mama ulun kada kawa lagi mambiayai ulun, sidin sudah tuha, gagaringan pulang.
Ibu guru : ini adding ikamkah, kasiannya inya.
Kakak: inggih, ini adding ulun, kaini pang inya.
Ibu guru : abah ikam pang mana?
Kakak : abah ulun sudah maninggal.
Ibu guru ; umai, kasiannya ikam, jaka kawa aku mambantu ikam, tapi nang ngaran guru honorer ni gasan saurang gin bibiya mayu. Ayu ja, ibu maantar ikam bulik barang.

Ibu guru berjalan, mengantar kakak dan adik pulang kerumah.

***

Babak III

Setting : panggung, botol-botol minuman, obat-obatan, suntikan
Pemain :
Bos preman; berjaket hitam, kaos hitam, pakai dasi, pakai celana levis bolong-bolong, pakai sandal jepit
Anak buah preman; pakai kaos singlet, celana besar, pakai sandal jepit.
Pelajar SMP ; pakaian sekolah, mudah tergoda.
Pelajar SMU 1: pakaian sekolah, mudah tergoda.
Pelajar SMU 2: pakaian sekolah, mudah tergoda.

Musik latar : preman (ikang fauzi), slak, lagu tobat

Sinopsis:
Zaman memang sudah semakin edan, bagaimana negeri ini bisa maju, kalau generasinya, yang ditahu cuma pesta pora ngedrank. Kalau ditanya alasannya, ga ngedrak ga gaul, bukankah bapak-bapak pejabat kita, kadang-kadang juga kepergok lagi asik seperti itu, itulah kata berita di media massa.
Masuk penjara, itu bukan solusi, dalam penjara mereka malah lebih bebas menikmati barang-barang terlarang. Keluar dari penjara, ya kumat lagi.
Mungkin hanya kematian yang bisa menyadarkan mereka.

Alur:
Bos preman berjalan sempoyongan, bersama anak buahnya, sambil meracau ngomong ngalur ngidul. Lalu duduk, sambil mengeluarkan barang-barang haram yang dibawanya.

Bos preman : kita nongkrong disini aja dah, biar lebih asik.
Anak buah ; ok, bos….

……………………..improv………………………………………………………

Tak lama kemudian lewat, anak SMP yang baru pulang sekolah.

Bos preman : oi, mau kemana lu, di sini aja gabung ama kita, sambil lu cobain barang-barang kita. Mumpung gua kasih gratis.
Anak buah : iya, lu disini aja, mumpung bos lagi baik hati.
Pelajar SMP : tapi bos, aku mesti cepat pulang kerumah, nanti dicari ( dengan wajah agak gugup)
Anak buah : alah, ngapain lo, cepat pulang kerumah, lu kalau ga mau gabung, benjol lo

Anak SMP pun akhirnya ikut ngedrak, begitu pula yang terjadi dengan anak SMU yang baru pulang sekolah.

Dst……………………………………………. Improv ………………………..

***

Babak IV

Setting : panggung , alat-alat demonstrasi
Pemain :
Ketua DLM
Ketua BEM
Ketua Panitia OSPEK
Seksi Hukuman
Mahasiswa-mahasiswa baru

Musik latar : lagu slank

Sinopsis:
Mahasiswa dengan kegiatan Orientasi Pengenalan Kampusnya, berusaha menanamkan disiplin kepada mahasiswa dan mahasiswi baru, agar mereka bisa menjadi orang yang kritis dan berpikiran maju, serta bisa menghadapi perubahan Zaman. Tidak lagi menjadi anak-anak manja yang cuma bisa minta uang sama orang tua mereka sendiri.
Situasi yang diselingi dengan canda, dan terkadang dengan hukuman.

Alur:
Situasi penerimaan mahasiswa baru

Seksi Hukuman : ayo cepat, semua mahasiswa baru, cepat berkumpul.

(semua mahasiswa waru dengan tergesa-gesa datang berkumpul.

Seksi Hukuman : kalian ini, sudah datang terlambat, cengengesan lagi, semuanya sekotjam.

Mahasiswa baru : berapa kali ka?
Seksi Hukuman : berapa kali kamu sanggup?
Mahasiswa baru : satu kali ka!
Seksi Hukuman : bagus, sekarang semuanya, sekotjam, 1x10, kerjakan!

(semua mahasiswa baru sekotjam dengan menggerutu)

Seksi Hukuman : cukup, sekarang baris yang rapi, perhatian seluruhnya, siap grak, setengah lencang kanan grak!

………………………………………………………………………

Seksi Hukuman : ya, sekarang ketua panitia ospek, akan menjelaskan tentang keadaan, dan fakultas-fakultas yang ada di Universitas luar biasa ini. Dengarkan baik-baik.
Ketua Panitia OSPEK : di kampus ini ada banyak fakultas, antara lain: fakultas ekonomi, fakultas administrasi, fakultas kehutanan, fakultas pertanian, fakultas keguruan dan lain-lain. Dan disini juga ada banyak organisasi-organisasi mahasiswa: ada organisasi himpunan mahasiswa jurusan, ada organisasi pecinta alam, ada organisasi Badan eksekutif mahasiswa yang sama dengan presiden dan mentrinya, ada organisasi Dewan legislativ mahasiswa yang sama dengan DPR dan MPR. Serta masih banyak organisasi yang lain.
Mahasiswa baru 1 : ka, saya mau Tanya ?
Ketua Panitia OSPEK : ya, silahkan !
Seksi Hukuman : tunggu ketua, hei kamu kalo Tanya angkat tangannya jangan angkat jidat, lalu sebutkan namanya, dasar tidak tahu diri, skotjam sepuluh kali.
Mahasiswa baru 1 : kena lagi dah aku!
(sekotjam sambil menggerutu)
Seksi Hukuman : sekarang ajukan pertanyaannya, ingat angkat tangan dan sebut namanya!
Mahasiswa baru 1 : saya mau nanya, nama saya diang katinting, saya dari dari SMU jurusan bahasa, menurut kaka, fakultas apa yang sesuai dengan saya ?
Ketua Panitia OSPEK : kalau begitu kamu masuk kefakultas keguruan saja.
Mahasiswa baru 1: saya mau nanya lagi, nama saya diang katinting, kalau sudah lulus difakultas itu, saya jadi apa ka?
Seksi Hukuman : ya jadi guru, bego!

Dst……………………………………………. Improv ………………………..

Ketua Panitia OSPEK : baiklah, sekarang kalian dengarkan penjelasan dari ketua BEM dan DLM!
Ketua BEM : selamat siang adik-adik mahasiswa baru!
Mahasiswa baru : selamat siang ka!
Ketua BEM : kita semua harus prihatin, dengan keadaan negeri ini, BBM makin naik, biaya pendidikan makin mahal, kita harus tunjukkan kepedulian kita kepada situasi ini.
Mahasiswa baru 2: bagaimana caranya ka!
Seksi Hukuman : ini lagi, sudah dibilangin dari tadi, kalau Tanya angkat tangan, lalu sebut nama, skotjam 10x!
Mahasiswa baru 2: maaf ka, lupa!
(sambil sekotjam)
Ketua DLM : caranya, kita harus turun kejalan, demonstrasi!

Dst……………………………………………. Improv ………………………..

***

Babak V

Setting : panggung
Pemain :
Ketua DLM
Ketua BEN
Ketua Panitia OSPEK
Seksi Hukuman
Mahasiswa-mahasiswa baru

Musik latar : lagu slank

Sinopsis:
Kepedulian mahasiswa, untuk mengeritik keadaan, menyuarakan apa saja yang mereka anggap tidak adil, karena pemerintah cuma bisa menetapkan peraturan yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Peraturan yang ditetapkan dalam keadaan perut kenyang, duduk diatas kursi yang empuk didalam ruang ber AC, tidur di hotel mewah, gajih dan tunjangan yang besar, dan kalau ada kesempatan korupsi pun dijalankan.
Bagaimana bisa dikatakan adil untuk rakyat kecil yang untuk makan satu hari saja, mereka belum pasti.
Keadaan sendiri jelas terlihat, busung lapar, anak-anak yang tidak mampu sekolah, pengangguran, hukum yang masih berpihak. Ditambah dengan biaya hidup yang semakin tinggi, maka jadilah yang kaya makin mewah, yang miskin makin sekarat.
Kepedulian mahasiswa, mereka turun kejalan, walau mungkin kematian menghadang.

Alur:
Demonstrasi berkeliling

Dst……………………………………………. Improv ………………………..

TAMAT